Interaksi Islam VS Ahli Kitab (Yahudi, Nasrani)

Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗

Bagaimana seharusnya umat Islam berinteraksi dengan Ahli Kitab menurut Al-Quran? Halalkah makanan dari orang Yahudi dan Nasrani? Bisakah umat Islam menikah dengan Ahli Kitab? Prof. Dr. Alwi Shihab mengupas berbagai hal terkait permasalahan dalam interaksi antara Islam dan Ahli Kitab, serta bagaimana seharusnya kita bersikap menurut Al-quran, dalam #PodcastAlwiShihab episode ke-16.

Refleksi Podcast Episode 16
C

Islam: Agama dan Penyerahan Diri

Tema titik temu antar agama-agama merupakan tema yang selalu hangat diperbincangkan oleh para cendikiawan, agamawan, dan para pemeluk antar agama di manapun berada. Di setiap masanya, selalu ada kelompok yang selalu berusaha mencari titik temu di antara identitas keyakinan yang berbeda tersebut. Dengan tujuan agar kelompok-kelompok yang berbeda itu bisa saling menghormati, yang kemudian dapat berdampak untuk mengurangi dan mengatasi konflik yang mungkin akan dan sedang terjadi. Sesama umat beragama hanya dapat melakukan ini, karena sangat tidak mungkin untuk mampu menghapus konflik yang dilahirkan dari perbedaan yang menjadi keniscayaan. Umat Islam tentu meyakini bahwasanya Alquran tidak saja berkedudukan sebagai petunjuk hanya bagi umat Islam, tetapi juga bagi seluruh umat manusia (QS. Al-Baqarah: 185). Alquran berisikan petunjuk-petunjuk, penjelasan-penjelasan, dan hal-hal yang membedakan antara perkara yang benar dan yang keliru.

Lantas, bagaimana hendaknya kita semua menyikapi perbedaan di antara kita semua untuk sungguh-sungguh dapat meminimalisir konflik dengan merujuk pada Alquran? Alwi Shihab mengatakan, Alquran sejak 14 abad yang lalu telah menjelaskan bahwa Tuhan sebenarnya bisa saja menciptakan manusia dalam satu aliran/agama/kelompok, tetapi Dia memilih untuk menguji tiap kelompok agar mereka dapat menunjukkan sampai dimana komitmennya dalam memegang ajarannya masing-masing untuk hidup tentram satu dan lainnya (QS. Al-Maidah: 48). Kita semua mengetahui bahwa agama di dunia ini tidak ada yang mengajarkan permusuhan. Dengan demikian, seandainya kita semua yang dengan segala macam perbedaannya mampu berpegang teguh pada ajaran-ajaran masing-masing, maka ini merupakan suatu jalan untuk mengurangi konflik di dunia.

Kitab suci sebelum Alquran (Taurat, Injil, dan lainnya) bercerita tentang jatuhnya Nabi Adam as. dari surga ke bumi. Dalam Perjanjian Lama dan Alquran juga diceritakan tentang kisah ini, Nabi Adam jatuh dari surga ke bumi disebabkan oleh godaan setan. Ini sudah diwanti-wanti oleh Allah Swt. kepada kita semua, bahwasanya setan telah bersumpah untuk menggoda dan menyesatkan manusia setelah ia diberikan masa hidup sepanjang masa oleh Allah Swt. (QS. Al-Hijr: 39). Sumpahnya setan ini disampaikan oleh Allah kepada hamba-Nya (semua anak Adam as.) agar para hamba-Nya senantiasa mawas diri.

Godaan setan inilah yang kemudian menimbulkan pertentangan konflik dan perbedaan-perbedaan yang mengakibatkan pertumpahan darah. Menganalisa kembali perjalanan sejarah agama-agama, di agama Yahudi ada kelompok-kelompok yang bertikai di antara mereka. Di agama Kristen juga demikian, ada di antara mereka kelompok Protestan, Katolik, Ortodoks Mesir, yang satu di antaranya saling tidak mempercayai. Ini semuanya adalah kerjaan setan, dan telah ditegaskan dalam Alquran bahwa setan itu adalah ‘aduww mubiin, musuh yang nyata (QS. Al-Baqarah: 168). Di dalam tubuh umat Kristen, antar kelompok yang ada di dalamnya saling mencurigai satu dengan lainnya. Sejarah mencatat pertikaian hebat antara umat Katolik-Protestan, Ortodoks-Katolik, juga aliran Mormon yang ajarannya dianggap sesat (oleh kelompok puritan Kristen) sehingga mereka diusir dan pindah di Utah. Ini adalah bagian dari sejarah agama Kristen.

Hal serupa juga terjadi dalam sejarah umat Islam. Sejak 50 tahun pasca meninggalnya Nabi Muhammad saw., sudah ada pertumpahan darah di antara sesama umat Islam. Menjadi sejarah yang masyhur, bahwasanya Sayyidina Ali (khalifah ke-4) dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam. Abdurrahman bin Muljam bukanlah seseorang yang tidak percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, ia percaya namun penafsirannya terhadap ayat-ayat suci Alquran itu melenceng dan meyakinkannya untuk menganggap orang yang melaksanakan dosa-dosa besar harus dibunuh. Abdurrahman tergabung dalam kelompok Khawarij yang memiliki penafsiran ayat demikian, mereka menganggap Sayyidina Ali sebagai orang atau khalifah yang telah melakukan dosa besar. Itulah yang membuatnya memiliki tekad untuk membunuh Sayyidina Ali.

Sejarah awal Islam ini kemudian melahirkan perbedaan-perbedaan pendapat di kalangan umat Islam, sejak dulu sampai hari ini. Ini dapat dibuktikan bersama dengan adanya kelompok Al-Qaeda, ISIS, yang pandangannya bersumber dari pemahaman yang tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Nabi Muhammad saw., yakni: Islam yang damai, Islam yang yang tidak menginginkan kekerasan. Nabi Isa as. juga menginginkan hal serupa, ia menginginkan umat manusia saling sayang-menyayangi. Akan tetapi, pekerjaan setan yang tidak ada habis-habisnya inilah yang menjadikan konflik di antara kelompok-kelompok intra dan inter agama. Atas dasar ini, harus menjadi kesadaran bagi semua untuk senantiasa mencari titik temu yang dapat digunakan untuk meminimalisir konflik yang acap berujung konflik.

Terdapat ayat Alquran yang menjadi perbincangan umat Islam dalam kaitannya mencari titik temu dengan ahlulkitab, yakni ayat yang berbunyi:

اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا ۢ بَيْنَهُمْۗ وَمَنْ يَّكْفُرْ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ فَاِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ

“Sesungguhnya agama di sisi Tuhan itu adalah Islam,” (QS. Ali ‘Imran: 19). Dan ayat:

وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُۚ وَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

“Barang siapa yang menjalani selain Islam, maka ia tidak akan diterima oleh Yang Maha Kuasa, dan nanti di hari kemudian, dia/kelompok ini akan menjadi kelompok yang merugi,” (QS. Ali ‘Imran: 85). Mayoritas ulama Islam menganggap bahwa maksud dari Islam pada ayat-ayat tersebut adalah agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.

Tetapi, ada juga pendapat valid lainnya yang berpandangan bahwa pada dasarnya agama Islam di sini bukanlah yang dibawa Nabi Muhammad saw., melainkan agama yang sifatnya penyerahan diri kepada Allah Swt. Dari itu, nama Islam di sini adalah nama agama Nabi Ibrahim as. Sebagaimana bunyi ayat:

مِلَّةَ اَبِيْكُمْ اِبْرٰهِيْمَۗ هُوَ سَمّٰىكُمُ الْمُسْلِمِيْنَ

Agama bapakmu (wahai Yakub) Ibrahim yang dia namakan orang-orang penganutnya ini adalah muslimin,” (QS. Al-Hajj: 78). Nabi Yakub juga mengatakan kepada anaknya, “Apa yang engkau akan sembah setelah aku? Dan anak-anak Yakub mengatakan, “Kami akan menyembah Tuhan yang disembah oleh bapakmu dan disembah oleh Ibrahim, Ismail, Ishak, sebagai Tuhan yang Satu dan kami semua ini akan menjadi orang Islam,” (QS. Al-Baqarah: 133).

Di Indonesia, perbincangan tentang isu ini pernah mencuat pada era 1970-an hingga 1990-an, yang pada masa itu, Cak Nun (Nurcholish Madjid) memberikan pandangan yang membedakan antara Islam sebagai agama dan Islam sebagai penyerahan diri. Pandangan ini tentunya dianut oleh gurunya, yakni Fazlur Rahman, dan banyak lagi ulama yang memiliki pandangan serupa (menganggap Islam pada ayat-ayat di atas sebagai penyerahan diri kepada Yang Maha Kuasa). Pandangan ini disebabkan karena pada dasarnya Islam ini sudah dimulai dari Nabi Ibrahim secara turun-temurun sampai Nabi Muhammad saw.

Sejak awal, Alquran telah menganggap Ahlulkitab sebagai keluarga yang mendapatkan kitab suci dari Yang Maha Kuasa. Ayat ini harusnya menjadikan umat antar agama menjadi semakin akrab disebabkan hubungan historis yang terjalin di masa Nabi saw. Hubungan akrab itu sangat jelas dari bagaimana relasi yang dijalin Nabi saw. bersama kelompok ahlulkitab yang berbeda dengan relasi yang dibangun beliau bersama kelompok musyrikin Makkah. Alquran juga memberikan keistimewaan-keistimewaan dibandingkan kelompok musyrikin (daging sembelihan ahlulkitab halal untuk dimakan, dan sembelihan musyrikin tidak; pengikut Nabi saw. boleh menikah dengan ahlulkitab, sedangkan dengan musyrikin tidak diperbolehkan). Karena, sejarahnya memang ahlulkitab sangat dekat hubungannya umat Islam. Juga dari ahlulkitab terdapat mereka yang dimasukkan pada golongan al-shaalihiin dan ummah qaaimah. Rasulullah saw. pernah bersabda kepada umat Islam yang artinya, “Barang siapa dari umatku yang membunuh orang yang melakukan perjanjian dengan orang Islam (ahlulkitab), maka dia tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium wanginya surga,” (HR. Bukhari). Semua ini menggambarkan relasi umat Islam-ahlulkitab (khususnya umat Kristen) yang sangat dekat dan menggembirakan karena adanya persamaan-persamaan di antara mereka.(IL/AKR)

Tulisan berdasarkan catatan digital video Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=Wcz__P4G7Z8&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=98.

Nonton juga

C
Umat Islam Wajib Perjuangkan Perdamaian

Umat Islam Wajib Perjuangkan Perdamaian

Bagaimana sikap kita dalam menyelesaikan ...

Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.

Komentar (0)
L

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...