Ciri Orang Bertakwa dan Cara Meraih Takwa

Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗

Ada banyak motivasi orang beribadah, namun yang paling tinggi nilainya adalah menyadari betul bahwa Allah SWT patut disembah. Apa yang dimaksud dengan takwa? Seperti apa ciri orang bertakwa? Dan bagaimana caranya menjadi orang bertakwa? Simak penjelasan Prof. Dr. H. Alwi Shihab di Podcast Kentongan episode ke-14.

Refleksi Podcast Episode 14
C

Bagaimana Cara Meraih Takwa dengan Berpuasa?

Allah mengharapkan bagi orang yang berpuasa untuk dapat meraih takwa. Takwa adalah menghadirkan Allah Swt. pada kehidupan kita sehari-hari. Dengan menghidupkan hal ini, maka kita semua akan terhindari dari perbuatan keji dan maksiat yang dilarang oleh Allah Swt. Ibadah puasa berbeda dengan ibadah lainnya (zakat, puasa, haji dan sebagainya), karena hanya diketahui oleh yang melaksanakannya dan Allah Swt. Oleh karena itu, puasa memiliki nilai yang sangat besar di mata Allah Swt., sehingga orang yang berpuasa dijanjikan mendapatkan ganjarannya langsung dari Allah Swt.

Takwa diharapkan dapat diraih oleh orang yang berpuasa, sebagaimana hadis Nabi saw. yang artinya, “Tidak sedikit orang yang berpuasa yang tidak betul-betul menunaikan puasanya secara konsisten (mungkin puasanya tidak karena Allah, atau puasanya dicederai oleh perilakunya yang tidak baik, sehingga nilai puasanya), yang dia raih adalah lapar dan dahaga (dia tidak meraih takwa),” (HR. Ahmad & Ibnu Majah). Untuk itu, kita perlu mengetahui apa saja persyaratan bagi yang berpuasa untuk meraih takwa. Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah menyampaikan bahwa, “Ada orang yang berpuasa karena takut neraka, takut siksaan dari Tuhan, ada juga orang yang berpuasa/beribadah, karena mengharap raihan surga. Tapi yang paling mulia di antara orang-orang yang beribadah, termasuk berpuasa, adalah yang sangat yakin dan sangat mengerti kedudukan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang patut disembah dan Tuhan Yang Maha Perkasa dan Maha penyayang.” Artinya, karena kesadaran inilah maka orang yang beribadah, dan orang yang berpuasa pun memiliki nilai-nilai tertentu.

Pada suatu ayat disebutkan, takwa adalah:

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ  وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

Orang bisa dinamai seorang yang bertakwa adalah yang bisa menyantuni, yang membantu orang-orang yang patut dibantu (orang miskin), baik ketika ia dalam keadaan longgar maupun dalam keadaan pas-pasan, dan yang bisa menekan amarahnya, dan siap untuk memaafkan orang lain, berbuat baik pada mereka yang telah melakukan kesalahan padanya,” (QS. Ali ‘Imran: 134). Maka dari itu, orang yang berpuasa, apabila ada yang mengganggu perasaannya (memaki, menghina, menyakiti), hendaknya ia dapat menekan puasanya dengan mengatakan, “Inni shaaimun/saya ini sedang berpuasa,” agar ia dapat mengontrol dirinya untuk tidak membalas kejelekan-kejelekan yang diterima olehnya. Pun dengan senantiasa dapat memaafkan orang lain, ini merupakan ganjaran luar biasa dari berpuasa, karena untuk melakukannya sangat tidak mudah. Termasuk tetap berbuat baik meskipun disakiti. Empat indikator dalam ayat ini merupakan cirri dari orang yang bertakwa.

Menurut para ulama yang merancang metode/cara untuk meraih puasa yang baik dan diridai Allah Swt. dan dijanji dengan derajat takwa oleh Allah Swt. adalah melalui:

1. Ikhlas, karena Allah Swt. menyampaikan:

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ

Kami tidak memerintahkan hamba-hamba untuk beribadah kecuali dengan cara yang ikhlas (yang betul-betul beribadah tanpa ada maksud-maksud selain ingin mendapat rida dari Allah Swt”  (QS. Al-Bayyinah: 5). Takwa itu berhubungan dengan aktivitas hati, karena hati yang bersihlah yang bisa menekan amarah, memaafkan orang, dan membalas kesalahan orang lain dengan kebaikan. Hanya hati yang bersih dan baik saja yang diharapkan bagi orang yang berpuasa untuk melakukan olah hati. Dengan menjadikan hati senantiasa bersih, merupakan salah satu cara untuk meraih takwa.

2. Bulan puasa Ramadan dikenal juga sebagai bulan sabar, karena yang berpuasa harus dapat sabar menghadapi godaan-godaan yang datangnya dari setan, manusia, dan keadaan-keadaan tertentu. Orang yang berpuasa juga dituntut untuk sabar dari hal-hal yang sebenarnya dihalalkan bagi mereka pada bulan-bulan lainnya (seperti makan-minum, berhubungan suami istri pada siang hari), untuk menekan jiwa dan perilaku demi kepentingan meraih takwa.

3. Meningkatkan nilai akhlak. Nilai akhlak/budi pekerti perlu ditingkatkan, dan yang paling utama dalam hal ini adalah jangan sampai orang yang berpuasa terjerumus dalam menggunjing/berbicara jelek terhadap sesama manusia. Sebagian ulama mengatakan bahwa menggunjing/berbicara kejelekan orang lain itu bisa menjadikan puasa tidak sempurna, bahkan ada yang mengatakan dapat membatalkan puasa.

Dengan kata lain, puasa adalah tentang bagaimana umat Islam dapat mengontrol hawa nafsunya. Dan yang mengetahui apakah umat Islam bisa mengontrol nafsunya atau tidak itu adalah diri mereka masing-masing. Sebuah ungkapan berbunyi, “Apabila engkau merasa terdorong untuk berbuat baik, maka yakinlah itu dari Allah. Namun, apabila engkau merasa bahwa engkau terdorong untuk meninggalkan kebaikan untuk beranjak berbuat jahat, maka itu adalah dorongan dari setan.” Mengingat firman Allah Swt.:

خَآئِنَةَ ٱلْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِى ٱلصُّدُورُ

Allah mengetahui lirikan mata yang mengandung arti dan apa yang apa yang terkandung di dalam jiwa manusia,” (QS. Al-Mu’min: 19).

Allah senantiasa mengingatkan para hamba-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

Wahai orang-orang yang beriman (termasuk yang diharapkan dari orang-orang yang berpuasa), untuk meraih takwa, janganlah engkau sekali-kali mengikuti jejak setan yang senantiasa ingin menyuruh kamu mengerjakan perbuatan yang keji dan mungkar (membelokkan kamu dari kebaikan),” (QS. Al-Nur: 21). Setan pernah bersumpah di hadapan Allah yang artinya, “Demi kesucian-Mu dan kemuliaan-Mu, saya akan mengganggu dan membelokkan hamba-Mu dari perbuatan baik,” (QS. Sad: 82-83). Dan Allah menjawab, “Sebaliknya Aku (Allah) akan senantiasa mengampuni hamba-hamba-Ku selama mereka memohon ampunan kepada-Ku,” (Hadis Qudsi).

Menjalani bulan puasa dengan baik merupakan upaya yang sungguh-sungguh untuk umat Islam mendekatkan diri kepada Allah Swt. Tanpa usaha, umat Islam tidak akan mendapatkan keselamatan, ketentraman, dan tidak akan mendapatkan ganjaran malam laylah al-qadar. Semua ini adalah sebuah upaya yang tidak boleh terputus, “Mereka yang berusaha sungguh-sungguh untuk mendekatkan diri kepada Kami, Kami akan carikan jalan baginya untuk mencapai tujuannya,” (QS. Al-Ankabut: 69).(IL/AKR)

Tulisan berdasarkan catatan digital video Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=vebrdVXXmrw&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=100

Nonton juga

C
Ini Maksud Ayat Lakum Diinukum wa Liya Diin!?!

Ini Maksud Ayat Lakum Diinukum wa Liya Diin!?!

Bagaimana cara kita memahami Lakum ...
Adab Dakwah dalam Masyarakat yang Majemuk

Adab Dakwah dalam Masyarakat yang Majemuk

Bagaimana berdakhwah sebagai seorang muslim ...
Ibadah Puasa dan Tarawih di Tengah Wabah Corona

Ibadah Puasa dan Tarawih di Tengah Wabah Corona

Bagaimana menjalani ibadah puasa dan ...

Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.

Komentar (0)
L

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...