Apa Konsep Hijrah yang Sesungguhnya Diberikan Allah sehingga Mewujudkan Keadilan?

Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗

Apa Konsep Hijrah yang Sesungguhnya Diberikan oleh Allah sehingga Mewujudkan Keadilan?

Refleksi Podcast Episode 102
C

Standarisasi Konsep Hijrah yang Memiliki Spirit Keadilan dalam Islam

Fanatisme kelompok dan golongan terkadang lahir akibat dari rasa ketidak-adilan yang dialami dalam hidup. Fanatisme ini juga melahirkan konsep hijrah yang beragam dalam banyak aliran keagamaan. Bahkan, dalam aliran Tasawuf misalnya, hijrah yang dilakukan salik membawanya mengalami keterlupaan kepada Allah Swt. secara kaca mata awam. Lantas, bagaimanakan makna hijrah dan konsep hijrah yang merupakan bagian dari hijrahnya Nabi Muhammad saw. yang memiliki semangat keadilan itu? Pemaknaan dan standar konsep hijrah ini sangat diperlukan oleh umat Muslim, mengingat banyaknya aliran dalam Islam yang memaknai dan menawarkan konsep hijrah berdasarkan pemahaman pribadi dan diperuntukkan untuk kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu.

Setidaknya, banyak dari kita yang memiliki kegelisahan serupa perihal konsep hijrah berkeadilan dalam meneladani hijrahnya Nabi saw. Namun realitanya, kita dihadapi dengan pemaknaan konsep hijrah yang beragam, sehingga menimbulkan kebingungan, jalan hijrah manakah yang seharusnya kita ikuti? Alwi Shihab membantu kita semua mengurai kegelisahan-kegelisahan ini, agar kita tidak terjebak dalam persimpangan jalan yang membingungkan, dan dapat menentukan pilihan dengan penuh keyakinan yang membahagiakan dan menyelamatkan. Alwi Shihab menjelaskan, pemaknaan hijrah sangatlah beragam antar aliran keagamaan dalam Islam, termasuk dalam kelompok Tasawuf. Adapun asumsi yang mengatakan bahwasanya hijrahnya salik dalam Tasawuf merupakan keterlupaan pada Allah Swt. secara lahirnya orang awam, itu adalah pemaknaan oleh kelompok kecil dalam Tasawuf.

Kelompok Tasawuf ini merupakan mereka yang sedang mengalami ekstase, di antara dari mereka ada Abu Yazid Al-Busthami, Al-Hallaj, dan lainnya. Menurut Alwi Shihab, konsep hijrahnya mereka ini tidak dapat kita semua terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Hal demikian hanya dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu dan hanya Allah Swt. yang dapat memberikan penilaian terhadap apa yang mereka lakukan. Mereka adalah orang-orang yang berada di luar jalur kehidupan manusia normal. Mereka adalah orang-orang yang telah sampai pada suatu titik yang lebih daripada titik manusia biasa, sehingga mereka bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh orang pada umumnya. Sehingga mereka kerap menyampaikan pernyataan-pernyataan ‘aneh’ atau dikenal dengan istilah syatahat, seperti pernyataan “Saya adalah Tuhan,” dan sejenisnya. Yang demikian menurut Imam Ghazali merupakan rahasia Tuhan yang diberikan kepada hamba-Nya yang tertentu (khusus), dan rahasia ini seyogyanya tidak disampaikan kepada orang lain/awam, karena orang lain tidak mungkin akan mampu memahami dan mengerti apa yang terkandung dari rahasia yang mereka utarakan. Ini adalah pemaknaan atas sebagian jalur hijrah dari aspek Tasawuf.

Selanjutnya, Alwi Shihab menyampaikan tentang hijrah, “Sebenarnya kita memahami Islam ini harus dengan cara yang tidak ruwet/complicated. Islam mengatakan bahwa hijrah adalah meninggalkan keadaan yang buruk kepada keadaan yang lebih baik; baik itu hijrah fisik, ataupun hijrah non fisik/spiritual. Yang bisa memberlakukan hal tersebut dan merasakan ada perubahan dalam kehidupannya, maka itu adalah tanda-tanda keberhasilannya dalam hijrah.” Demikianlah seyogyanya standar dari makna, teknis dan buah dari hijrah yang berkeadilan. Hal ini dapat kita buktikan bersama, tentang bagaimana orang-orang yang melakukan hijrah fisik dan kemudian mendapatkan hal-hal yang lebih baik di tempat barunya dibandingkan di tempat asalnya. Alwi Shihab juga mengisahkan perihal hijrah fisiknya dari Makasar (Sulawesi) ke Jawa, kemudian dari Jawa ke Mesir, dari Mesir ke Amerika, dan dari Amerika kembali ke Indonesia. Perjalanan hijrah fisiknya ini memberikan Alwi Shihab banyak pengetahuan dan pengalaman baru yang ia harapkan selalu dalam rida Allah Swt. Alwi Shihab menambahkan, seandainya ia tidak melakukan rihlah hijrah fisik dalam maksud menambah pengalaman dan ilmu pengetahuan, dan menetap hanya di Makasar saja, mungkin apa yang ia dapatkan saat ini hanya terbatas pada titik tertentu dan tidak mungkin ia menjadi seperti Alwi Shihab yang sekarang. Dan apa yang ia peroleh saat ini, baginya adalah sesuatu yang melebihi ekspektasinya saat muda dulu. Oleh karena itu, ia sangat bersyukur pada Allah Swt. atas rida hijrah fisik dan non fisik yang ia lakukan.

Oleh karena itu, standar dari hijrah ialah berupa: berpindah dari satu tempat ke tempat lain (fisik dan non fisik) dan adanya tekad untuk merubah diri kepada keadaan yang lebih baik. Adapun konsep-konsep hijrah yang ditawarkan kelompok-kelompok radikal, menurut Alwi Shihab siapapun boleh saja memberikan argumentasi, penjelasan dan pemaknaan tentang hijrah. Namun jika merujuk pada standar konsep hijrah yang dilakukan Nabi Muhammad saw. dan para sahabat (yang dapat kita jadikan contoh) adalah hijrah dengan maksud merubah keadaan, dari keadaan terpuruk menuju keadaan yang lebih baik. Hijrahnya Nabi Muhammad saw. menciptakan peradaban baru di Madinah. Di kota peradaban itulah Nabi saw. mulai mendakwahkan ajarannya secara sistemik hingga sekarang. Hingga kini, ajaran tersebut menjadi ajaran yang sangat relevan dalam kehidupan para pemeluknya. Bahkan, di Barat, agama Islam dikenal sebagai agama yang paling deras, paling luas cakupan pengikutnya dibandingkan agama-agama yang lain. Ketika agama lain mulai ditinggalkan oleh para pemeluknya, agama Islam justru sebaliknya, para pengikut barunya kian bertambah dibandingkan masa-masa sebelumnya.

Kembali ditegaskan Alwi Shihab, agar dalam menelaah dan memahami ajaran agama Islam, para umat Muslim jangan terlalu mempersulitnya, sehingga kemudian ajaran tersebut sulit untuk dijalankan oleh umat Muslim sendiri. Atas dasar tersebut, Alquran harus senantiasa menjadi patokan dalam mencari jawaban atas kegelisahan-kegelisan yang melanda diri, termasuk tentang konsep hijrah. Sebagaimana tercatat dalam QS. Al-Nisa’: 100,

وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Menurut penafsiran Alwi Shihab, ayat ini membicarakan bahwasanya Tuhan memerintakan kita agar berhijrah, “Berhijrahlah! Karena dengan hijrah, kamu akan mendapatkan keleluasaan dalam kehidupan, mendapatkan rejeki, selama hijrah itu betul-betul untuk kepentingan peningkatan hubungan kita dan keridaan Allah Swt. Alwi Shihab memandang, sesungguhnya Tuhan tidaklah ‘cerewet’ pada pilihan makhluknya, asalkan hati hamba-hambanya ini senantiasa dalam kondisi bersih. Apabila hambanya mau berhijrah, mau merubah diri, mau bertekad untuk perubahan itu semampunya, dan apabila kelak hambanya ini berhasil maka mereka seyogyanya bersyukur. Jikalau usaha hijrahnya itu tidak berhasil atau tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, maka seyogyanya hamba yang beriman tetap berusaha untuk meningkatkan upayanya tersebut.

Pada penjelasannya tentang standar konsep hijrah, Alwi Shihab memberikan resep utama dalam berhijrah. Menurutnya, hal yang penting dan paling penting dalam proses hijrah adalah membersihkan jiwa, sebagaimana disampaikan dalam QS. Al-Syams: 9,

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا

Berdasarkan ayat ini, bagi Alwi Shihab, “Mereka yang bisa membersihkan jiwanya adalah mereka yang beruntung, itu Alquran yang bilang. Tidak ada gunanya kita membawa teori-teori dari sini ke sana, tetapi hati kita tidak bersih dan  hijrah tidak perlu dengan cara-cara yang gembar-gembor dan sebagainya. Kita bisa berhijrah tanpa banyak orang yang tahu. (kita dapat berhijrah) dengan hati yang tulus dan kita memohon dari Allah Swt. untuk dimudahkan kehidupan kita untuk merubah keadaan kita, dari yang baik menjadi lebih baik, dan yang buruk menjadi baik.”

Dengan kata lain, apapun makna dan konsep hijrahnya, seyogyanya hijrah fisik dan non fisik tersebut dilakukan untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik dalam meniti rida-Nya dengan senantiasa mengusahakan menjadi hamba sejati yang beruntung, yakni hamba yang senantiasa membersihkan penyakit-penyakit jiwa dalam hatinya. Jika telah demikian, apapun konsep hijrahnya, konsep-konsep tersebut tidak akan mendatangkan kemudaratan kepada pribadi, kelompok dan manusia secara luas; melainkan mendatangkan kemaslahatan, keadilan dan kedamaian yang didamba bersama tanpa saling menyalahkan pemaknaan hijrah yang masing-masing fahami dan jalankan. (IL/AKR)

Artikel ditulis berdasarkan catatan digital video pada Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=h2Q0zw2apnE&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=10 dengan judul “Apa Konsep Hijrah yang Sesungguhnya Diberikan Allah sehingga Mewujudkan Keadilan?”

Nonton juga

C

Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.

Komentar (0)
L

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...