Cara Cerdas Menangkal Radikalisme: Langkah Praktis untuk Generasi Muda

Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗

Apa sebenarnya radikalisme itu? Bagaimana cara agar kita, terutama generasi muda, tidak terjebak dalam paham-paham yang menyesatkan?

Dalam episode #PodcastAlwiShihab ke-113 ini, kami membahas “Cara Cerdas Menangkal Radikalisme: Langkah Praktis untuk Generasi Muda” dari lingkungan, media sosial, hingga pergaulan sehari-hari.

Refleksi Podcast Episode 113
C

11 Langkah Menangkal Radikalisme

Islam memiliki citra yang baik dan buruk di mata dunia. Citra yang buruk tidak serta merta membuat umat Islam menjauhinya, melainkan banyak pula yang mengikutinya, disebabkan pengaruh dari para tokohnya berikut strategi penyebaran isme-nya. Sebagai awam, tentu banyak umat Islam yang ingin mengetahui, apa saja yang perlu dilakukan agar tidak terjerumus pada kelompok faham keras ini, atau dalam istilah sekarang disebut sebagai kelompok dengan faham radikal?

Alwi Shihab merespon pertanyaan ini dengan mengatakan bahwa penyebab utama radikalisme adalah: Pandangan suatu kelompok yang diarahkan oleh tokoh-tokoh yang pendapatnya bersifat radikal. Ada 11 langkah yang harus umat Islam (dan umat lainnya) dapat lakukan untuk menangkal radikalisme, yakni:

  1. Menulusuri (mencari informasi) rekam jejak tentang kelompok radikal (tokoh dan pandangannya), sehingga dapat mengetahui, apakah faham kelompok ini benar-benar sesuai ajaran Islam atau tidak. Contoh kelompok radikal ada Alqaeda, Wahabi dan ISIS. Kelompok Wahabi, tujuan dari kelompok ini adalah memurnikan ajaran agama dari bid’ah (hal-hal yang dinilai baru dalam agama). Akan tetapi mereka kebablasan, sehingga menganggap orang yang melakukan bid’ah harus diperangi. Demikian pula dengan kelompok ISIS yang membunuh sesama orang Islam. Sikap ISIS ini bertentangan dengan nilai yang disepakati oleh jumur ulama. Jumhur ulama menyepakati bahwasanya yang disebut keluarga besar dalam Islam ialah mereka yang memenuhi satu atau lebih dari unsure-unsur berikut: percaya kepada Tuhan YME; membaca syahadat; percaya kepada rukun Islam; percaya kepada rukun Iman; memahami perbedaan-perbedaan dalam penerapan syariat (selama tidak menggangu prinsip dasarnya). Kelompok anti Syiah adalah contoh kelompok yang tidak memahami perbedaan dalam penerapan syariat. Padahal pada Konferensi Mekkah (Konferensi untuk harmonisasi sekterian dalam Islam, 2006) dinyatakan bahwa Syiah itu beragam, sebagaimana kelompok Ahlu Sunnah. Masing-masing dari kelompok ini ada yang keras dan lunak. Sehingga, tidak bisa digeneralisir semua aliran Syiah adalah sama, demikian pula Ahlu Sunnah.
  2. Tidak mengeneralisir aliran tertentu sepenuhnya radikal.
  3. Mampu memilah dan memilih yang dapat diterima sebagai saudara (dekat) dengan indikator: tidak melanggar akidah yang disepakati. Contoh pandangan radikal Wahabi adalah menganggap kaum Sufi (pengamal Tasawuf) itu musyrik, juga menilai ziarah kubur adalah perbuatan syirik. Anggapan ini karena mereka menganggap orang yang berziarah kubur itu meminta dari kubur, padahal dalam perspektif kaum Sufi, ziarah kubur adalah untuk mendoakan ahli kubur (keluarga, guru, tetangga, ulama, dan lainnya), serta memohon kepada YME agar doanya dikabulkan (karena doa dilakukan di tempat yang dianggap suci daripada tempat lain).
  4. Tidak memonopoli kebenaran dan tidak mudah menghakimi orang lain yang acap menjadi bibit radikalisme. Seperti pelabeblan syirik pada pertunjukkan wayang atau juga saling menghakimi karena Qunut dalam salat Subuh.
  5. Tidak menfasirkan teks keagamaan secara ketat dan kaku. Penafsiran yang ketat dan kaku akan menimbulkan sikap intoleran, radikal, keras, yang mengarahkan pada menghalalkan darah liyan yang dianggap telah melakukan pekerjaan yang memiliki unsur persekutuan Tuhan dengan makhluk.
  6. Senantiasa waspada terhadap berbagai faham keagamaan dan tidak mudah mengikuti satu golongan yang disinyalir terlalu ketat.
  7. Berada di tengah dan bersikap moderat, tidak melonggarkan dan mengetatkan ajaran agama.
  8. Mampu menerima perbedaan yang ada.
  9. Mampu menerima pandangan yang berbeda.
  10. Tidak menyalahkan dan mudah memberi label sesat kepada liyan.
  11. Mengikuti atau menjadi tokoh agama yang moderat. Jikalau jadi tokoh agama, maka harus menjadi tokoh yang moderat. Jikalau menjadi umat beragama tanpa status sosial menjadi pemuka agama, maka seyogyanya tidak mengikuti tokoh agama yang menyebarkan faham bermuatan unsur radikal. Bahkan kondisi di Arab Saudi sebagai wilayah asal kelompok Wahabi saat ini sudah mulai mereda. Pemerintah Arab Saudi kini lebih moderat, karena sang pemimpin menilai bahwa paham Wahabi sudah tidak relevan dengan zaman (dan kemanusiaan), serta dianggap jauh dari pandangan Islam moderat.

Menutup paparannya, Alwi Shihab berharap, “Mudah-mudahan kita tidak terpengaruh oleh kelompok-kelompok radikal yg dengan mudah menkafirkan orang yang berbeda.” Seraya mengucapkan ‘Amin,’ mari kita mengikuti langkah-langkah tersebut secara nyata di dunia nyata dan dunia maya. (IL/AKR)

Artikel ditulis berdasarkan catatan digital video pada Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=5aqEGNP_56s&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO  dengan judul “Cara Cerdas Menangkal Radikalisme: Langkah Praktis untuk Generasi Muda.”

Nonton juga

C

Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.

Komentar (0)
L

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...