U

Agar Tidak Dendam

Refleksi Podcast Episode 73

Cara Ampuh Menjauhi dan Menghilangkan Dendam

Sejarah peradaban Islam memiliki rangkaian peristiwa yang membahagiakan dan memilukan. Termasuk bagian dari sejarah yang memilukan adalah catatan peristiwa yang berkaitan dengan peperangan, baik antara sesama umat Islam, maupun dengan umat agama lain. Sejarah-sejarah tersebut terkadang dapat menumbuhkan rasa dendam pada pihak lawan yang memiliki identitas agama atau kelompok yang sama di masa sekarang. Perebutan kekuasaan dan penaklukan wilayah di masa lampau  menyisakan duka, luka trauma, ketakutan dan dendam yang terpendam dalam diri umat beragama yang bersengketa. Kita tidak dapat merubah sejarah yang kelam tersebut karena itu adalah fakta yang terjadi, namun apakah kita memiliki cara agar dapat menyikapi fakta tersebut dengan bijak dan tidak menimbulkan warisan rasa dendam yang merugikan kehidupan antar umat beragama dan juga antar sesama di masa sekarang dan masa yang akan datang?

 Merespon kegelisahan ini, Alwi Shihab mengatakan, “Fasfah fahuwa khair,” memaafkan itu adalah lebih baik. Pernyataan ini senada dengan QS. Al-Hijr, 85:

…فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيْلَ

Maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.”

Ayat ini turun sebagai penegasan pada Nabi saw. bahwa kiamat pasti datang, sehingga Nabi Muhammad saw. diperintahkan untuk dapat memaafkan kaumnya yang enggan beriman, yang melakukan kecaman, gangguan dan pendustaan pada Nabi saw. Allah Swt. menunjukkan jalan supaya Nabi saw. dapat memaafkan mereka dengan cara yang baik.

Alwi Shihab melanjutkan, “Jika ada pertikaian, baik itu di level pribadi,  level kelompok, dan level yang lebih tinggi lagi, (kita) itu dianjurkan untuk memberi maaf, karena (memberi maaf) itu lebih baik.” Ya, sekalipun ada jalan untuk membalas segala hal yang menyakiti dan merugikan kita, secara syariat, umat Islam dianjurkan untuk memaafkan. Walaupun realitanya, terkadang kita sebagai manusia sulit untuk memaafkan orang yang telah menyakiti kita sampai sedalam-dalamnya, namun Alquran sungguh menganjurkan untuk memaafkan. Ini adalah jawaban dari Tuhan yang dapat kita praktikkan sebagai cara jitu untuk menghindari dan menghilangkan rasa dendam dalam hati. Rasa dendam adalah bagian dari penyakit hati yang dapat merusak jiwa, amal, dan juga memberikan kerugian pada fisik. Yang demikian sungguh tidak memiliki arti yang bermakna. Oleh karena itu, Alquran mengajarkan agar kita memaafkan dengan cara yang baik.

Alwi Shihab mengajak kita untuk bercermin pada diri, “Apakah kamu tidak ingin Tuhan memaafkan dosa-dosamu?” Ini adalah pertanyaan intropeksi diri, juga bagian dari komunikasi Tuhan kepada kita hambanya, sebagaimana tertera dalam QS. Al-Nur, 22:

…اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dengan kata lain, jika memaafkan orang, maka kita dijanjikan oleh Tuhan untuk kita dimaafkan oleh-Nya atas segala dosa-dosa yang kita miliki. Menyikapi peristiwa kelam di masa lampau, kita harus senantiasa berusaha mencari jalan agar kita dapat berhubungan secara baik dengan kelompok yang pernah berseteru dengan kita, baik secara pribadi, kelompok dan lainnya; baik yang berhubungan dengan kejadian di masa lampau, sekarang, bahkan peristiwa yang mungkin terjadi di masa akan datang. Alwi Shihab mengajak kita, alih-alih menyimpan dendam, masa lalu yang demikian hendaknya dilupakan. Masa lalu yang kelam kita jadikan sebagai suatu catatan sejarah untuk tidak diulangi, sehingga kita dapat bersama-sama membuka lembaran baru yang dapat menjadi sejarah membahagiakan untuk generasi mendatang.

Alwi Shihab memungkasi penjelasannya, sungguh betul bahwasanya melupakan itu adalah hal yang sulit dilakukan. Oleh karena itu, kita membutuhkan tekad yang kuat untuk bisa naik ke level seorang yang pemaaf. Paparan Alwi Shihab ini mengajarkan kita semua untuk berlatih membuang rasa dendam, berlatih memaafkan atas kesalahan liyan, berlatih untuk menjalankan syariat yang berasal dari Tuhan dan yang Nabi saw. teladankan, berlatih untuk memiliki sifat yang dimiliki Tuhan,

Nonton Juga

C

Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.

Komentar (0)
L
× Silakan LOGIN untuk berkomentar.