Siapa Ahli Kitab dalam Al-Quran?
Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗
Apakah ketiga agama Abrahamik (Yahudi, Kristen, dan Islam) adalah benar-benar dapat disebut keluarga? Dalam hal apa? Bagaimanakah dengan perbedaan dogma masing-masing agama Abrahamik ini? Apakah harus dikesampingkah atau seperti apa? Simak jawaban Prof. Dr. H. Alwi Shihab di Podcast Alwi Shihab episode 44 berikut ini.
Refleksi Podcast Episode 44
Siapakah Ahlulkitab Itu?
Menyaksikan keberagaman agama yang ada dan juga relasinya yang termaktub dalam Alquran, setiap umat Islam pasti pernah melontarkan pertanyaan dalam diri, “Siapakah Ahlulkitab itu?; Apakah umat agama Yahudi, Kristen/Nasrani dan Islam bisa dikatakan keluarga?” Alwi Shihab menjawab pertanyaan ini dengan menggunakan perspektif ajaran agama Islam yang menyatakan bahwa komunitas Yahudi, Kristen dan Islam itu dinamai sebagai Ahlulkitab. Ahlulkitab itu bermakna sama-sama keluarga kitab, sebagaimana di dalam Alquran terdapat surah Ali ‘Imran yang bermakna keluarga Imran, atau juga Ahlul Bait yang merujuk kepada kelaurga Rasulullah saw. Ajaran Nabi Muhammad saw. menganggap umat agama Yahudi dan Kristen sebagai keluarga karena dalam Islam semua rasul yang diutus oleh Allah Swt. membawa doktrin dan ajaran yang sama.
Alwi Shihab memberikan ringkasan perjalanan intelektual yang panjang dengan menyampaikan apabila kita hendak menelusuri ajaran-ajaran ketiga agama tersebut, maka terdapat persamaan. Seperti saat kita membaca The Ten Commandments, semua yang tertulis di sana sama dengan doktrin yang terdapat dalam Islam. Seperti tentang pengabdian dan penyerahan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, larangan membunuh, larangan mencuri, kesaksian yang jujur, dan semuanya ini sama. Menurut Alquran juga mengatakan bahwa semua rasul-rasul yang diutus itu membawa misi yang sama, hanya saja dalam konteks yang berbeda, sehingga ada perubahan-perubahan yang tidak terlalu signifikan.
Alquran menyebutkan:
لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَّمِنْهَاجًاۗ وَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَجَعَلَكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلٰكِنْ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اِلَى اللّٰهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَۙ
“Kalian semua ini Kami berikan metode, ajaran, tiap masing-masing komunitas. Kalau Tuhan mau, sebenarnya Tuhan bisa menciptakan satu bangsa, satu komunitas, satu agama (karena hal itu mungkin lebih mudah). Namun Tuhan tidak mau, Tuhan maunya menguji masing-masing komunitas, sampai dimana komitmennya pada ajarannya. Dari itu berusahalah untuk berlomba-lomba melaksanakan kebaikan, karena kalian semua nanti akan kembali ke Tuhan dan Tuhan yang akan memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah,” (QS. AL-Maidah: 48). Atas dasar ini pula, manusia tidak diperbolehkan mengambil alih otoritas Tuhan, hak prerogatifnya untuk menghakimi mana yang benar dan salah.
Komunitas Islam menganggap komunitas Yahudi dan Kristen sebagai keluarga, sehingga hasil sembelihan komunitas Yahudi dan Kristen dapat digunakan oleh komunitas Islam (tidak haram memakan hasil sembelihannya). Komunitas Islam juga diperbolehkan menikah dengan umat dari komunitas Yahudi dan Kristen. Hal ini telah dipraktikkan oleh Nabi Muhammad saw. sewaktu beliau mengutus utusannya ke Mesir. Sepulangnya utusan tersebut, turut serta hadiah dari Raja Muqauqis untuk Nabi saw. yang berupa makanan, kendaraan, juga dua bekas tawanan perang (Maria Al-Qibtiyah dan Sirin). Kemudian Nabi saw. menikah dan memiliki anak dari Maria Al-Qibtiyah yang diberi nama Ibrahim.
Juga kepada umat dari komunitas Yahudi, Nabi saw. menikahi Shafiyyah binti Huyay. Pada saat perang Khaibar, saat komunitas Yahudi dan komunitas yang memerangi Islam kalah perang, ada tawanan perang yang bernama Shafiyyah yang merupakan istri dari panglima perang komunitas Yahudi. Di hadapan Nabi saw. ia diberi pilihan, apakah ia mau kembali ke keluarganya atau bersama kelompok Nabi saw. Dan Shafiyyah memilih untuk bersama kelompok Nabi saw. hingga akhirnya ia dinikahi oleh Nabi saw.
Dua fakta sejarah ini sungguh mempertegas perintah Alquran bahwa komunitas Yahudi dan Kristen itu sungguh keluarga bagi komunitas Islam. Alquran memiliki banyak ayat yang berkaitan dengan komunitas Ahlulkitab dibanding dengan komunitas lainnya. Oleh karena itu, sudah sangat dikenal bahwa Ahlulkitab merupakan keluarga bagi komunitas Islam. Pun Nabi Muhammad saw. pernah berkata, ”Siapa saja yang mengganggu Ahlulkitab, seakan-akan mengganggu saya,” (HR. Al-Thabrani). Harus diingat bersama, Ahlulkitab dianggap keluarga bagi umat Islam karena doktrinnya bersumber dari Yang Satu, dan juga tidak banyak perbedaan doktrin di antara tiga komunitas tersebut.(IL/AKR)[1]
[1] Tulisan berdasarkan catatan digital video Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=ydZ0tE0c5IY&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=70.
Nonton juga
Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.


0 Comments