Masalah Agama di Indonesia dan Solusinya

Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗

Prof. Dr. H. Alwi Shihab memaparkan masalah agama di Indonesia dan solusinya. Simak penjelasan beliau di Podcast Alwi Shihab episode ke-46 berikut ini.

Refleksi Podcast Episode 46
C

Cara Meminimalisir Konflik Antar Umat Beragama

Secara universal, tidak banyak hal bertentangan yang ada di antara Islam, Kristen dan Yahudi. Namun dalam realitanya, karena berbagai faktor yang ada, seperti faktor ekonomi maupun politik menyebabkan lahirnya konflik antar umat tiga agama tersebut yang digerakkan oleh kelompok radikal. Melihat pertikaian antar umat beragama yang masih terulang, sejatinya apa yang dapat dilakukan oleh umat Islam atas kondisi ini?

Alwi Shihab menyampaikan bahwasanya umat manusia, khususnya umat Islam telah mendapat anjuran dari Yang Maha Kuasa agar menitik beratkan tiga hal dalam menghentikan konflik dan menciptakan hubungan yang harmonis:

  1. Manusia harus tahu bahwa manusia diciptakan berbeda-beda, dan manusia diminta untuk dapat berinteraksi positif dengan yang berbeda lainnya. Alquran mengisitilahkannya dengan diksi litaa’rafuu.Jadi, perbedaan-perbedaan yang sengaja Tuhan ciptakan bukanlah untuk bertikai, melainkan agar manusia saling melakukan hubungan yang positif dengan yang sesamanya.
  2. Naluri manusia selalu menganggap agamanya, pendapatnya dan miliknya itu yang terbaik. Tetapi ada anjuran yang memerintahkan manusia untuk berlaku baik pada mitra sesama manusia. Kendati dalam kondisi sedang berkompetisi di dalam agama bersama umat agama lainnya, khususnya umat Islam tidak diperbolehkan serta merta menganggap bahwa agama lain itu keliru. Bahkan, kadang-kadang ada umat beragama yang tidak mengindahkan etika dalam pergaulan sehingga memaki-maki umat beragama yang berbeda dengannya. Hal ini sudah disebutkan dalam Alquran:

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَيَسُبُّوا اللّٰهَ عَدْوًا ۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ

“Jangan sekali-kali kamu menciptakan kegaduhan hubungan yang tidak harmonis di antara kelompok-kelompok yang berbeda, apalagi memaki agama mereka, karena pada akhirnya makian tersebut akan dibalas dengan makian yang terkadang melebihi batas,” (QS. Al-An’am: 108). Dan yang demikian harus dihindari semua umat beragama tanpa terkecuali.

  1. Manusia harus bisa memahami bahwa perbedaan adalah keniscayaan. Perbedaan yang kita miliki tidak boleh kita gunakan sebagai dasar untuk saling bertikai. Alquran mengajarkan kita untuk mencari titik temu, bukan titik beda. Jika kita mencari titik beda, maka dapat dipastikan akan berujung pada konflik dan pertikaian. Oleh karena itu, antar umat agama yang berbeda harus senantiasa mencari titik temu di antara kita semua. seperti contoh, titik temu dari aspek teologis adalah kita semua sama-sama pemeluk agama monoteis, yaitu agama yang mengabdikan diri pada Yang Maha Kuasa. Terkadang, orang yang tidak memiliki banyak ilmu, menjadikan wawasannya sempit. Sebaliknya, orang yang yang ilmunya luas maka menjadikan wawasannya luas, dan berkurang ingkarnya pada orang lain. Kurangnya ingkarnya pada orang lain di sini maksudnya adalah berkurangnya penolakannya terhadap padangan orang lain.

Maka dari itu, apabila kita mengamati peradaban-peradaban yang maju, maka itu adalah peradaban yang bisa menghormati perbedaan, tidak memaki orang lain yang berbeda, serta menitik-beratkan persamaan di antara yang berbeda. Apabila tiga hal ini dapat kita terapkan di Indonesia, maka in sya Allah kita akan menjadi bangsa sekaligus komunitas agama yang harmonis. Titik temu yang mempersatukan semua hal yang menjadi perbedaan masyarakat Indonesia tidak lain adalah Pancasila.(IL/AKR)[1]

[1] Tulisan berdasarkan catatan digital video Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=HCOcdB_LzCk&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=68.

Nonton juga

C
Umat Islam Wajib Perjuangkan Perdamaian

Umat Islam Wajib Perjuangkan Perdamaian

Bagaimana sikap kita dalam menyelesaikan ...
Rahasia Dahsyatnya Pahala Puasa

Rahasia Dahsyatnya Pahala Puasa

Ini dahsyatnya puasa apabila dilaksanakan ...

Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.

Komentar (0)
L

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...