Apa Perbedaan Muslim dan Mukmin?
Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗
Bagaimana menjelaskan “Innaddina Indallahil Islam”, “huwa sammakumul muslimin” dan pujian untuk bani Israel “wa annī faḍḍaltukum ‘alal-‘ālamīn”? Simak jawaban Prof. Dr. H. Alwi Shihab di Podcast Alwi Shihab episode ke-59 berikut ini.
Refleksi Podcast Episode 59
Siapakah Muslim dan Mukmin Itu?
Umat Islam memiliki tradisi berdoa dan bertawasul secara bersama-sama maupun sendirian. Biasanya rangkaian ritual tersebut juga mengkhususkan Alfatihah bagi Muslimin (jamak dari Muslim) dan Mukminin (jamak dari Mukmin). Menjadi pertanyaan kemudian, apakah status Muslim dan Mukmin adalah dua hal yang berbeda? Bukankah yang diakui di sisi Allah hanya agama Islam saja (QS. Ali Imran: 19)? Dan bagaimana relevansinya dengan QS. Al-Hajj ayat 78?
Alwi Shihab memulai paparannya dengan mengatakan, bahwa tafsir tersebut sudah dijelaskan oleh almarhum Cak Nur (Nurcholish Majid). QS. Ali Imran ayat 19 berbunyi:
اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُۗ …
“Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah ialah Islam.”
Islam dalam ayat ini memiliki makna ‘pengabdian kepada Yang Maha Kuasa.’ Para ulama terdahulu juga mengelaborasi makna dan perbedaan antara Muslim dan Mukmin dengan beragam pandangan. Agama yang dinamakan oleh Allah Swt. kepada semua utusan-utusanNya itu adalah sammakum al-Muslimiin (Allah menamakan kalian al-Muslimiin). Seperti pada QS. Al-Hajj ayat 78:
…هُوَ سَمّٰىكُمُ الْمُسْلِمِيْنَ…
Sehingga, Islam dan Muslim di sini tidak secara khusus merujuk pada agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw., melainkan merujuk pada makna ‘mereka yang berbakti; yang mengabdi kepada Allah Swt.; yang menyerahkan diri.’ Secara bahasa, Islam itu artinya penyerahan diri, dan nama agama yang dinamakan Allah Swt. pada agama-agama para nabi dan rasul itu semuanya adalah agama Islam. Ini adalah maksud dari ayat ke-19 surah Ali Imran ini. Jadi, agama yang diterima oleh Allah Swt. adalah agama yang betul-betul melakukan pengabdiannya hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Alwi Shihab kemudian melemparkan pertanyaan reflektif kritis, “Apakah hanya Islam (yang dinisbahkan kepada ajaran Nabi Muhammad saw. saja) yang mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa?” Jawaban pertanyaan ini, “Itu Tuhan Yang Mengetahui.” Jawaban ini didasarkan pada jawaban umat agama lainnya, baik itu Yahudi maupun Nasrani, semuanya mengatakan bahwa mereka tidak mengabdi kepada siapapun dan apapun kecuali hanya pada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi, Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. adalah kelanjutan dari agama-agama sebelumnya. “Ini adalah (penjelasan) menurut Alquran,” tegas Alwi Shihab. Jadi kalau ada yang bertanya, apakah agama Islam itu, jawabannya adalah: Islam adalah agama yang secara hakikat Tuhan namakan kepada agama-agama yang diutus melalui para nabi dan rasul-Nya.
Atas dasar ini, Alwi Shihab memberikan gambaran pada waktu Salat Jumat. Pada momen tersebut, para jamaah diingatkan selalu dalam doa yang berbunyi ‘Allahummaghfir lil muslimiina wal muslimaat. Allahummaghfir lil mukminiina wal mukminaat.’ Dalam susunan doa ini, ada perbedaan di dalamnya. Jamaah mendoakan orang yang Muslim dan juga orang yang Mukmin. Muslim dan Mukmin memiliki kedudukan yang setara dalam doa-doa yang dilantunkan para jamaah. Ini adalah suatu hal yang sangat menarik, mengingat dalam Alquran juga disampaikan (Al-Baqarah: 62) bahwa orang-orang pengikut agama Yahudi, Nasrani (dan seterusnya), yang betul-betul konsisten terhadap pengabdian kepada Tuhan yang Maha Esa, kemungkinan mereka juga akan selamat. Ini adalah sesuatu yang tidak bisa kita sangkal. Karena disebutkan juga di dalam QS. Ali Imran ayat 113:
لَيْسُوْا سَوَاۤءًۗ مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ اُمَّةٌ قَاۤىِٕمَةٌ…
“(Di antara mereka) Tidak semua ahlul kitab itu sama. Ada di antara mereka yang lurus…”
Ummah qaaimah atau golongan yang lurus maksudnya adalah kelompok yang konsisten dalam pengabdiannya kepada Allah Swt.
Sebagai pungkasan, Alwi Shihab menasehati kita semua agar hal-hal yang demikian kita serahkan kepada Allah Swt. Yang dapat kita lakukan dalam kondisi umat yang beragam ini adalah bersama-sama berdoa agar kita termasuk dari mereka yang dijanjikan keselamatan di hari kemudian. Kita juga diminta untuk tidak membatasi rahmat Tuhan hanya kepada umat Islam pengikut ajaran Nabi Muhammad saw. saja. Bagaimanapun, rahmat Allah Swt. itu meliputi segala sesuatu. Tidak saja diperuntukkan bagi manusia semata, tetapi bagi segala makhluk-Nya yang ada di bumi ini (QS. Al-A’raf: 156).
Membaca, menyimak, merenungkan jawaban Alwi Shihab ini seyogyanya membuat masing-masing diri intropeksi lebih dalam lagi: Masihkah kita memonopoli rahmat Tuhan? Masihkah kita memonopoli surga dan ganjaran hari kemudian? Kita semua punya peluang untuk selamat. Mari sama-sama saling menyelamatkan. (IL/AKR)
Artikel ditulis berdasarkan catatan digital video pada Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=UAclUa59OLo&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=55 dengan judul “Apa Perbedaan Muslim dan Mukmin?”
Nonton juga
Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.


0 Comments