Indahnya komunikasi antara Allah dan Nabi Muhammad
Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗
Berdasarkan penelitian, kita mengucapkan rata-rata 4000 ribu kata setiap hari. Pertanyaannya, apakah dari 4000 ribu kata yang kita ucapkan setiap hari lebih banyak manfaatnya atau justru lebih banyak mudharatnya? Indahnya komunikasi antara Allah dan Nabi Muhammad bisa menjadi suri tauladan bagi kita. Simak Podcast Alwi Shihab episode ke-35 berikut ini, bersama Prof. Dr. H. Alwi Shihab.
Refleksi Podcast Episode 35
Keistimewaan Nabi Muhammad saw. Di Sisi Allah Swt.
Alquran banyak sekali menyinggung tentang Nabi Muhammad saw., baik tentang perjuangan, pengorbanan, dan juga materi dakwah yang diberikan pada-Nya. Satu di antara hal penting dalam materi dakwah tersebut adalah Allah Swt.:
وَذَكِّرْهُمْ بِاَيّٰىمِ اللّٰهِۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُوْرٍ
“Ingatkan kepada mereka tentang hari-hari allah (hari-hari yang pada waktu-waktu tertentu memperingati hal-hal yang besar), dengan demikian kamu sekalian akan memperoleh tanda-tanda kebesaran Allah (dari hari-hari yang diperingati),” (QS. Ibrahim: 5).
Semua umat Islam mengetahui, bagaimana kehidupan Nabi saw. yang tidak terpengaruhi oleh siapapun itu. Sejak dalam kandungan, ia telah ditinggalkan oleh ayahandanya. Ketika berusia 6 tahun, ibundanya pun pergi untuk selamanya menyusul sang ayah. Nabi saw. sungguh hidup dalam lingkungan yang tidak dipengaruhi oleh siapapun, kecuali keluarga kecil terdekatnya, yakni Abdul Muthalib (sang kakek) dan Abu Thalib (sang paman).
Lantas, siapa yang mendidik Nabi saw.? Alquran adalah bagian dari kehidupan Nabi saw. Nabi saw. pun mengakui, yang artinya, “Allah yang mendidik aku, dan mendidik aku dengan sebaik-baiknya pendidikan.” Dari itu, Sayyidah Aisyah pernah bertanya pada Nabi saw, “Bagaimana sebenarnya akhlak Rasulullah ini?’ Yang kemudian dijawab dan dipuji oleh Allah di dalam Alquran:
وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
“Engkau Ya Rasulullah, menyandang budi pekerti yang luhur,” kemudian Sayyidah Aisyah merespon dengan mengatakan, “Budi perkertinya adalah apa yang terdapat dalam Alquran.’
Banyak petunjuk, penjelasan, dan hal yang patut kita ikuti dari sosok Nabi Muhammad saw. Beliau adalah manifestasi dari ajaran-ajaran yang ada dalam Alquran. Nabi saw. dipuji Allah Swt. karena memiliki budi pekerti yang luhur. Hal ini tampak dari ayat-ayat Alquran yang menggambarkan kualitas diri Nabi saw. Seperti pada ayat:
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
”Sesungguhnya Allah dan para malaikat memberikan selawat (rahmat dan perlindungan) kepada Nabi Muhammad saw., dari itu wahai orang-orang yang beriman, ucapkanlah selawat pada Nabi Muhammad saw.,” (QS. Al-Ahzab: 56).
Ayat-ayat Alquran itu, apabila kita hendak menelitinya, Allah Swt. sewaktu menyapa para nabi-Nya, Dia menyapa para nabi dengan namanya, seperti kepada:
- Nabi Adam as.:
يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ
“Wahai Adam, tempati surga itu dengan istrimu,” (QS. Al-Baqarah: 35).
- Juga Nabi Nuh as.:
يَٰنُوحُ ٱهْبِطْ بِسَلَٰمٍ مِّنَّا
“Wahai Nuh, berlabuhlah dalam keadaan selamat sejahtera,” (QS. Hud: 48).
- Nabi Ibrahim as. yang dikenal sebagai nabi yang sangat dekat pada Allah Swt. sehingga dikenal dengan khaalif (teman Allah Swt.), Allah memanggilnya juga dengan namanya:
يّٰٓاِبْرٰهِيْمُۙ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَاۚ
“Wahai Ibrahim, engkau telah mempercayai perintah yang kau lihat dalam mimpimu dengan melaksanakan perintah itu,” (QS. Al-Shaffat: 104-105).
- Nabi Musa as.:
يٰمُوْسٰٓى اَقْبِلْ وَلَا تَخَفْۗ
“Wahai Musa, hadapi Fir’aun! Jangan gentar, jangan takut!” (QS. Al-Qashash: 31).
- Nabi Yahya as.:
يٰيَحْيٰى خُذِ الْكِتٰبَ بِقُوَّةٍۗ
“Wahai Yahya, laksanakan apa yang ada di dalam kitab (Taurat) dengan konsisten!” (QS. Maryam: 12).
- Nabi Isa as:
يٰعِيْسٰٓى اِنِّيْ مُتَوَفِّيْكَ وَرَافِعُكَ اِلَيَّ
“Wahai Isa, Aku cukupkan kehidupanmu di dunia ini dan mengangkat kamu ke langit, surga, bersama Allah Swt.” (QS. Ali ‘Imran: 55).
Sedangkan kepada Nabi Muhammad saw., tidak ada sapaan dari Allah Swt. kepadanya yang menggunakan namanya. Di dunia ini, apabila kita menyapa seorang menteri umpamanya, maka kita akan memanggilnya ‘Pak Menteri,’ kita tidak akan memanggil namanya. Karena apabila kita memanggil dengan jabatannya, itu seolah-olah kita lebih menghormatinya. Inilah yang dapat kita simpulkan mengapa Allah Swt. tidak menggunakan ‘Yaa Muhammad,’ melainkan ‘Yaa ayyuhaa al-Nabii, Yaa ayyuhaa al-rasuul, Yaa ayyuhaa al-muzammil, Yaa ayyuhaa al-mudatsir.’ Seperti pada ayat:
يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللّٰهُ وَمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ
“Wahai Nabi saw., cukuplah bantuan Allah pada kamu dan juga orang-orang beriman yang mengikutimu,” (QS. Al-Anfal: 64). Pada ayat lainnya juga disebut:
يٰٓاَيُّهَا الرَّسُوْلُ بَلِّغْ مَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَۗ
”Wahai Rasulullah (Muhammad saw.), sampaikan apa yang telah diturunkan kepadamu melalui Alquran dari Allah Swt.,” (QS. Al-Maidah: 67). Hal tersebut merupakan sebuah penghormatan yang diberikan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad saw.
Adapun penghormatan lainnya yang hanya diberikan pada Nabi Muhammad saw. dan diabadikan dalam Alquran adalah kedudukannya dan keistimewaan akhlaknya yang bisa dijadikan suri tauladan/role model bagi seluruh umat manusia. Tentang bagaimana cara Nabi Muhammad saw. berinteraksi dengan baik kepada keluarganya, istri-istrinya, para sahabatnya, umat agama lainnya, juga orang-orang yang memusuhinya, merupakan ajaran yang dapat diikuti oleh siapapun. Nabi saw. merupakan sosok yang sangat lembut, sehingga orang-orang yang berada di sekelilingnya merasa tidak lebih rendah dan sangat dimanusiakan. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk mengikuti apa saja yang dipertontonkan oleh Nabi saw. sebagai perilaku kita semua. (IL/AKR)[1]
[1] Tulisan berdasarkan catatan digital Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=VfgqOxkZE2M&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=80.
Nonton juga
Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.


0 Comments