Rahasia Dahsyatnya Pahala Puasa
Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗
Ini dahsyatnya puasa apabila dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Simak penjelasan Prof. Dr. H. Alwi Shihab di Podcast Kentongan episode ke-13.
Refleksi Podcast Episode 13
Apa Rahasia dari Ibadah Puasa?
Ibadah puasa wajib bagi seluruh umat Islam puasa yang dilaksanakan selama bulan Ramadan. Terlebih melekasanakannya di dua kota suci, Makkah dan Madinah, tentu menjadi harapan dan pengalaman yang diinginkan banyak umat Islam. Khususnya pada 10 hari terakhir bulan Ramadan, hari-hari tersebut sangat menentukan sukses tidaknya puasa yang dilakukan oleh pengikut ajaran Rasulullah saw. Pada 10 hari terakhir ini dijanjikan di dalamnya malam laylah al-qadar, malam suci dengan pahala yang besar bahkan transformasi dalam kehidupan seseorang yang memperoleh kemuliannya.
Alwi Shihab berbagi kisah, suasana di tanah suci pada 10 hari terakhir bulan Ramadan sangat luar biasa, seperti kondisi Kakbah yang dipenuhi orang yang melakukan tawaf. Demikian pula di Mesir, banyak aktivitas yang dilaksanakan pada malam 10 terakhir Ramadan. Di masjid Al-Azhar dan masjid Sayyidina Husein diadakan festival-festival yang berkaitan dengan ilmu agama dan pengetahuan, juga bazar kitab yang sangat ramai dikunjungi oleh pengunjung. Adapun pengalaman paling berkesan bagi Alwi Shihab perihal 1/3 terakhir bulan Ramadan adalah ketika ia berada di Makasar. Pada saat itu ia masih berusia 10 tahun. Pelaksanaan tarawih pada malam-malam tersebut di masjid Al-Said sangat hening. Para lansia di sana tampak sangat sedih meninggalkan hari-hari terakhir bulan Ramadan. Para lansia ini mengucapkan, “Muwadda’ mwadda’ yaa Ramadaan,” sambil bercucuran air mata. Alwi Shihab kecil menyanyakan perihal ini kepada ayahandanya, ”Mengapa orang-orang tua ini menangis?” Sang ayah menjawab, “Mereka semuanya beranggapan bahwa bekum tentu tahun depan mereka mendapat kesempatan untuk menunaikan puasa Ramadan dan juga mendapat kesempatan 10 terakhir yang sangat mulia. Dimana pada 10 hari itu ada laylah al-qadar.”
Kini, di usia lanjutnya, Alwi Shihab bisa memahami kondisi tersebut, karena bulan puasa adalah bulan yang istimewa dan bagi Allah Swt. ini merupakan bulan penuh rahmat. Pada 10 hari pertama bulan ini, Allah Swt. menjanjikan rahmat-Nya; 10 hari kedua, Allah Swt. menjanjikan pengampunan-Nya; dan 10 hari ketiga Allah Swt. melepaskan hamba-Nya dari api neraka. Saat berada dalam bulan puasa, orang mukmin seakan-akan berada dalam alam spiritual. Orang mukmin diminta untuk sungguh-sungguh mengubah sikapnya, dan menjadi orang yang lebih baik. Orang mukmin mengetahui, di dalam rangkaian ayat suci Alquran tentang puasa disampaikan bahwa ibadah puasa Ramadan itu tidak saja khusus bagi para pengikut Rasulullah saw. saja; melainkan, telah ditetapkan bagi seluruh peradaban sebelum pengutusan Rasulullah saw. Jadi, sejak peradaban era lampau sampai sekarang, manusia-manusia berpuasa untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Khususnya bagi umat Islam pengikut ajaran Rasulullah saw., diingatkan oleh Allah Swt. bahwasanya bulan Ramadan adalah ayyaaman ma’duudah, yakni hari-hari yang terbilang dan tidak terlalu lama, hanya 30 hari. Oleh karena itu, hendaknya kesempatan 30 hari ini sungguh-sungguh digunakan untuk meraih apa yang diharapkan dari berpuasa, yakni meraih takwa. Puasa adalah ibadah yang istimewa, yang pahalanya dijanjikan oleh Allah Swt. diberikan langsung oleh-Nya. Mengapa demikian? Karena ibadah ini adalah ibadah yang hanya diketahui oleh seorang yang melaksanakannya dan Allah Swt. Atas dasar ini, dalam melaksanakannya dibutuhkan keikhlasan. Ganjaran puasa bagi umat Islam adalah didapatkannya takwa.
Umat Islam harus mengetahui, bahwa siapa pun yang melaksanakan puasa dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati, maka mereka akan mendapat pengampunan dari dosa-dosanya yang telah dilakukannya. Ibadah puasa juga merupakan perisai untuk pelaku puasa dari api neraka. Tentu yang paling istimewa dalam bulan puasa adalah adanya laylah al-qadar. Laylah al-qadar merupakan malam yang memiliki kemuliaan lebih dari seribu bulan (QS. Al-Qadr: 3). Orang yang beribadah, orang yang berbuat baik, orang yang senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Swt., maka ganjarannya tidak terhingga. Maka dari itu, pada suasana yang penuh dengan arti spiritual, hendaknya umat Islam dapat menggunakan waktunya semaksimal mungkin untuk meraih takwa.
Setiap tahun, di Amerika ada potongan pembelanjaan yang luar biasa pada masa Thanksgiving, yang dinamai Black Friday. Semua orang di sana ingin menghadiri pusat-pusat pembelanjaan untuk mendapatkan potongan belanja mencapai 90 persen. Dapat dibayangkan bersama, apabila kita menggunakan kondisi tersebut untuk dianalogikan dengan bulan Ramadan, tetu kita tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Allah Swt.
Puasa bukanlah suatu ibadah yang mudah karena ganjaran dan janjinya Allah Swt. sangat luar biasa bagi yang melaksanakannya. Allah Swt menyampaikan:
وَرَحْمَتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍۗ فَسَاَكْتُبُهَا لِلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ
“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu dan Aku tetapkan bahwa rahmat tersebut akan Ku berikan kepada mereka yang bertakwa,” (QS. Al-A’raf: 156). Dan siapa mereka yang bertakwa? Antara lain adalah orang yang berpuasa. Pada ayat lain disebutkan:
وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ
“Bergegaslah untuk memperoleh ampunan dari Allah Swt. dan memperoleh surga yang luasnya seluas langit dan bumi (yang telah dipersiapkan untuk orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang berpuasa),” (QS. Ali ‘Imran: 133).
Berdasarkan semua penjelasan ini, mari kita semua bersama-sama melakukan ibadah puasa Ramadan (khususnya 10 hari terakhir) untuk dapat memperoleh laylah al-qadar agar kehidupan ini terasa tentram dan menjadi lebih baik (dari penuh kegelisahan menjadi tenang, dari arogansi menjadi rendah hati, dari penuh amarah menjadi bijaksana). Sayyidah Aisyah pernah bertanya pada Rasulullah saw., “Rasulullah, apa yang harus kita lakukan dan doa apa (yang dibaca) pada malam-malam laylah al-qadar?” Dan kemudian Rasulullah saw. mengajarkan istrinya, dan tentu saja mengajarkan kita semua doa yang masyhur ini:
اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ اَلْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Sesungguhnya Engkau ya Allah Swt. Maha Kuasa yang penuh dengan pengampunan. Untuk itu ampunilah dosa-dosaku.” Mengapa pengampunan itu yang dimintakan pada Allah? Karena pada hakekatnya, perbuatan yang baik diganjar sampai dengan 700 kali. Dosa-dosa yang manusia miliki, harapannya dapat dihapus dengan permohonan ampunan. Sehingga yang tertinggal adalah kebaikan-kebaikan dan ganjarannya sebanyak 700 kali sebagaimana janji Allah Swt.(IL/AKR)
Tulisan berdasarkan catatan digital video Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=ajYgSMH9JLk&list=PLKN0wcIUtKYlpYPbRIXgRav6op_v9vKkO&index=101.
Nonton juga
Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.


0 Comments