Oleh: Dr. Alwi Shihab ↗

Tuhan bagi setiap agama tidak menginginkan pertikaian karena perbedaan, tetapi kenapa Tuhan menciptakan perbedaan? Apa implikasinya bagi kita sebagai manusia dan sebagai hambaNya? Bagaimana menjelaskan kepada generasi selanjutnya bahwa pihak yang berbeda itu penting? Pertanyaan ini diajukan oleh Nurhayatun, di Batang – Jawa Tengah.

Refleksi Podcast Episode 70
C

Jika Tuhan Maha Damai, Mengapa Ia Ciptakan Perbedaan yang Membuat Hambanya Saling Tikai?

Umat manusia saling mendamba kehidupan bersama yang penuh ketenangan dan kedamaian. Adanya nafsu-nafsu manusiawi yang harusnya dapat digunakan untuk menciptakan perdamaian bersama acap disalah-gunakan untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Kondisi inilah yang membuat perbedaan yang niscaya menjadi ajang kompetisi antar kelompok untuk menjadi yang paling superior atas kelompok lainnya. Hingga akhirnya, bukan perdamaian yang terwujudkan, melainkan permusuhan bahkan peperangan. Jika demikian umumnya cara dunia berjalan, mengapa Tuhan YME harus menciptakan perbedaan tersebut? Bukankah ajaran Tuhan dalam setiap agama itu tidak menginginkan pertikaian karena perbedaan? Apa tujuan Tuhan menciptakan perbedaan tersebut? Dan bagaimana cara kita menjelaskan kepada generasi selanjutnya bahwa yang berbeda itu penting?

Pertanyaan-pertanyaan demikian tentu pernah terlintas dalam benak kita semua saat menyaksikan adanya permusuhan di antara kita yang berbeda, dan kita tidak dapat memiliki kuasa untuk mencegah agar hal tersebut tidak terjadi. Pertanyaan-pertanyaan yang berasal dari diri yang pesimis ini tidak selamanya buruk dan bentuk keraguan atas kuasa Tuhan; karena jawaban yang dipaparkan Alwi Shihab atas pertanyaan-pertanyaan ini akan membuat semua umat beragama menjadi bertambah imannya pada Yang Kuasa, juga membangun rasa optimisme untuk menciptakan perdamaian atas perbedaan yang menjadi identitas bersama.

Alwi Shihab menjelaskan bahwasanya jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini sudah ada di dalam Alquran, yakni QS. Al-Maidah ayat 48:

…وَّلٰكِنْ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ…

“Akan tetapi, Allah hendak mengujimu tentang karunia yang telah Dia anugerahkan kepadamu. Maka, berlomba-lombalah kamu semua dalam berbuat kebaikan.”

Alwi Shihab menegaskan, berdasarkan ayat ini sudah jelas, bahwa alasan Tuhan menciptakan perbedaan itu adalah untuk melihat performance tiap kelompok, yakni perilaku tiap kelompok agama yang berbeda-beda ini terhadap ajaran Tuhan yang mereka yakini. Atas dasar ini, maka kelompok yang berbeda-beda ini tidak perlu bertikai, melainkan harus fastabiquu al-khairaat, berlomba-lomba berbuat kebaikan. Sehingga, biarkan orang lain dengan agamanya, dan kita dengan agama kita; dan jangan terhadap kelompok yang berbeda agamanya dengan kita lantas kita mempermasalahkan agama mereka.

Mempermasalahkan agama liyan harus dihindari bersama, karena tentang agama itu menyangkut kepercayaan, akidah. Akidah berada di dalam hati dan tidak dapat diketahui dalamnya. Kelompok agama yang berbeda harus bersama-sama mencari titik temu, walaupun sedikit; agar titik temu tersebut menjadi ruang temu untuk mengerjakan kebajikan bersama. Dengan kata lain, menyikapi perbedaan yang menjadi takdir Tuhan bukanlah dengan mempermasalahkan perbedaan itu, melainkan kita semua yang berbeda saling bekerja sama dan berlomba-lomba mengerjakan kebaikan yang bermanfaat untuk kehidupan bersama.

Alwi Shihab juga ingin kita semua sungguh-sungguh menyadari, bahwa perbedaan yang tercipta adalah kehendak Tuhan dengan menyimpan banyak pelajaran baik yang dapat kita semua renungkan. Sebagaimana bunyi QS. Al-Maidah, ayat 48:

وَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَجَعَلَكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةً…

“Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia hanya menjadikanmu satu umat (saja)…”

Ya, ayat ini memaparkan bahwa kalau Allah mau, Dia bisa menciptakan manusia ini semuanya jadi satu kelompok saja, misalnya jadi orang Indonesia saja, jadi orang Barat saja, jadi orang Afrika saja; tetapi, Tuhan tidak mau itu. Tuhan maunya ada perbedaan-perbedaan, tetapi perbedaan yang ada jangan sampai dijadikan sebagai sumber malapetaka (perkelahian atau permusuhan).

Apabila kita sudah memiliki kesadaran ini, maka selanjutnya adalah memiliki cara bersikap yang sesuai dengan anjuran Alquran pula dalam berinteraksi dengan kelompok agama yang berbeda. Alwi Shihab mengutip QS. Al-Baqarah, ayat 83:

…وَقُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْنًا …

”…Bertutur katalah yang baik kepada manusia…”

Alwi Shihab mengungkap, banyak sekali ayat Alquran yang menganjurkan keteladanan  bertutur kata yang baik kepada manusia yang notabenenya adalah kelompok yang berbeda. Jadi, kalau bergaul kepada semua manusia, berbicaralah yang baik. Jangan berbicara baik hanya dengan sesama orang Islam saja, atau sesama ahlul kitab saja, melainkan kepada siapapun itu. “Itu adalah anjuran dari Alquran,” tegas Alwi Shihab. Mari bebarengan menjadi diri yang tersadarkan, terfahamkan, tergerakkan dan tercerahkan. (IL/AKR)

Artikel ditulis berdasarkan catatan digital video pada Podcast Alwi Shihab pada laman https://www.youtube.com/watch?v=TSEaDtuBtXU&list=PLWuE9NE-a3Bg3JdQtJ-GmoLls-axhwkaV&index=42 dengan judul “Kenapa Ada Perbedaan Agama?”

Nonton juga

C

Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.

Komentar (0)
L

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...