Bagaimana Berpedoman dengan Mazhab Secara Bijak
Audio
Refleksi Podcast Episode 85
Tuntunan Bersikap Bijak dalam Merespon Keberagaman Mazhab
Nyatanya, menghargai perbedaan bukanlah hal yang mudah untuk dilaksanakan. Perlu niat, tekad dan aksi dalam merealisasikannya. Tentu sebagai awam kita terkadang menemukan kesulitan untuk menentukan, harus dari titik mana kita belajar agama?; dan kesadaran yang seperti apa yang harus kita semua miliki untuk dapat hidup bebarengan dengan mereka yang berbeda mazhab, dan tentunya menjadi pedoman untuk hidup damai dengan beragam macam perbedaan lainnya yang ada di dunia. Merespon hal ini, Alwi Shihab mengatakan bahwa kita perlu memiliki cara-cara yang bijak dengan melakukan hal-hal sebagai berikut: pertama, mengikuti mazhab tertentu namun tidak fanatik buta. Maksudnya adalah, seperti halnya di Indonesia, hampir semua ulama Indonesia bermazhab Syafi’i, tetapi tidak berarti harus berpegang pada pandangan mazhab tersebut secara menyeluruh. Maka menjadi tidak mengejutkan, bahwa ada ulama-ulama yang juga memberikan pelajaran di luar pandangan Syafi’iyyah, namun hal-hal yang mungkin tidak secara (bersifat) prinsipil.
Kedua, bagi orang awam, ia memiliki keharusan untuk dapat berguru dan memilih guru pada tokoh agama yang dikenal tidak keras, moderat. Keharusan mengambil guru ini adalah salah satu langkah bijak agar apa yang kita fahami sejalan dengan tuntunan agama; dan kita dapat memiliki jalan yang aman dan baik dalam memahami teks-teks sakral keagamaan. Alwi Shihab mengatakan, bahwa banyak tokoh di Indonesia yang keras pandangan keagamaannya, dan banyak juga yang tidak keras. Kita memiliki kekuasaan untuk memilih. Oleh karena itu, anjuran dari Alwi Shihab dalam memilih guru adalah, “Bergurulah kepada tokoh-tokoh yang moderat, tokoh-tokoh yang inklusif, bukan tokoh-tokoh yang (mengatakan) ‘pokoknya saya yang benar, pokoknya yang di luar sana yang salah.”
Ya, indikator-indikator tersebut adalah persyaratan minimum saat kita hendak memilih seseorang untuk dijadikan guru; dan inilah seyogyanya cara yang harus ditempuh saat bersungguh-sungguh mencari guru, sehingga kita tidak asal dalam mencari panutan yang diikuti. Termasuk tidak asal mengikuti apa yang terdapat dalam Youtube, lalu menjadikan apa yang tersampaikan dalam konten tersebut adalah Islam. Ya, itu adalah Islam menurut pandangannya, dan kita berhak memilih dengan bijak pandangan mana yang memenuhi syarat-syarat seperti yang telah disebutkan. Sehingga, saat kita merasa tidak sesuai dengan pandangan seseorang, maka kita boleh mencari pandangan tokoh Muslim lainnya yang kita anggap lebih sesuai dan relavan dengan kita.
Aktif mencari kesesuaian pandangan keagamaan dari tokoh Muslim yang moderat adalah langkah yang paling selamat dalam menjalani kehidupan beragama. Langkah ini akan membawa umat Islam menuju tahapan bijak bermazhab yang ketiga, yakni menghindari fanatisme. Fanatisme adalah sesuatu yang harus kita hindari bersama. Alwi Shihab mengatakan, “Kalau kita sudah fanatik, sudah susah.” Alwi Shihab menganalogikan fanatisme tersebut dengan umpamanya mengatakan: Pokoknya saya ikut Syi’ah!; Pokoknya saya ikut ISIS!; Pokoknya saya ikut apa kata Ibnu Taymiyah!; Pokoknya saya ikut apa kata tokoh-tokoh Salafi Jihadi!. Fanatisme yang demikian harus dihindari. Seandainya kalau Salafi Jihadi mengatakan bahwa kita harus memerangi umat Islam yang berbeda dengan mereka atau bermaksud menumbangkan pemerintahan karena dianggap thaghut, maka dapat diprediksi bahwa kehidupan demokrasi bersama akan menjadi berantakan. Oleh karena itu, bersama-sama sebagai umat beragama apapun mazhabnya, kita harus menghindari fanatisme.
Alwi Shihab menegaskan, ketiga cara bijak merespon keberagaman mazhab ini mungkin gampang untuk diucapkan, namun sulit untuk dilaksanakan. Kendati demikian, beliau menganjurkan untuk, “Pilihlah guru-guru yang dikenal sebagai guru yang moderat, yang tidak gampang untuk mengkafirkan pihak lain.” Kita tidak sepatutnya mengkafirkan mereka yang berbeda mazhab dengan kita, karena mereka itu adalah saudara; dan mengapa mesti dikafirkan? Jangankan terhadap sesama Muslim, kepada non Muslim juga kita diajarkan untuk mengatakan, “Kamu tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kami lakukan. (Dan) kami pun tidak bertanggung jawab terhadap apa yang engkau lakukan.” Anjuran ini diabadikan dalam QS. Yunus, 41:
…اَنْتُمْ بَرِيْۤـُٔوْنَ مِمَّآ اَعْمَلُ وَاَنَا۠ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تَعْمَلُوْنَ
Alwi Shihab memberikan pemaknaan atas ayat ini agar sesama yang berbeda, jangan kita saling bertengkar. Pertengkaran yang demikian tidak akan menghasilkan kepastian kebenaran dan kemaslahatan bersama, karena nanti Tuhan yang akan menyampaikan kepada kita, siapa yang benar di antara kita. Sebagaimana QS. Al-Maidah, 48:
…اِلَى اللّٰهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَۙ
Perihal kebenaran keyakinan, Alwi Shihab menyampaikan, “Tentu saja, kita sebagai Muslim merasa bahwa kita yang benar; tapi, kelompok Yahudi, kelompok Kristen, dan lain-lain juga, mereka punya hak untuk mengatakan (bahwa) mereka yang paling benar.” Maksudnya adalah, dalam segala perbedaan ini, seyogyanya kita tidak mencari titik beda, melainkan mencari titik temu, ini adalah cara bijak keempat dalam menghadapi keberagaman mazhab (dan perbedaan lainnya) yang ada. Apabila kita mampu mencari titik temu dalam setiap perbedaan, maka kita dapat berkawan dengan siapapun.
Tentang pertemanan, Alwi Shihab mengajak agar kita tidak memilah-milah. Sebagai orang Islam, maka tidak patut mengatakan: Kalau tetangga kamu bukan Muslim, kamu tidak perlu membantu saat mereka lagi membutuhkan. Sama sekali tidak boleh demikian. Adapun yang diajarkan oleh Islam dalam relasi bertetangga adalah: bantu tetangga kamu, baik dia Muslim maupun non Muslim. Alwi Shihab menegaskan, tetangga harus dibantu saat membutuhkan, karena mereka adalah bagian dari keluarga kita dalam bentuk tempat tinggal, yakni tempat yang terdekat pada kita. (Dalil tentang pernyataan ini bertebaran dalam teks Alquran dan Hadis, di antaranya: QS. Al-Mumtahanah, 8-9, QS. Al-Baqarah 271; Hadis riwayat Bukhari No. 5589/ Muslim No. 700, juga dalam hadis-hadis yang berisikan sikap Nabi Muhammad saw. yang memberi dan menerima bantuan dari non Muslim).
Memungkasi paparannya, Alwi Shihab kembali mengatakan bahwa umat beragama diharapkan dapat belajar dari sekian banyak tokoh yang ada, memilih mana yang dianggap lebih cocok pandangan keagamaannya dengan jiwa, dan kemudian mengikuti tokoh agama yang sesuai tersebut; tentunya dengan spesifikasi khusus, tokoh tersebut tidak mudah mengkafirkan pihak lain (moderat).
Membaca paragraf demi paragraf, kita akan merasa bahwa kita semua adalah manusia yang terlahir merdeka. Kita memiliki kebebasan memilih mana yang sesuai dengan jiwa kita tanpa mengusik apa yang menjadi pilihan orang lain. Perbedaan yang menjadi keniscayaan tidak lagi menjadi ancaman yang menakutkan, melainkan mempersatukan diri-diri yang merdeka melalui irisan-irisan bersama yang berupa titik temu. Harapan semua jiwa adalah hidup dalam kedamaian. Semoga kita semua senantiasa memiliki hidup yang damai dan menenangkan; salah satu caranya adalah mengaplikasikan tuntunan-tuntunan ini dalam realita kehidupan.(IL/AKR)
Nonton Juga
Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.