U

Terlalu Eksklusif dengan Mazhab yang Dianut

Refleksi Podcast Episode 84

Memuliakan Semua Manusia karena Sama-sama Berasal dari Satu Keturunan, Adam as.: Dasar Utama Bertoleransi

Mewujudkan Islam sebagai agama yang penuh kasih sayang merupakan hal yang senantiasa dilakukan hampir setiap umat Islam dimana pun berada. Sikap toleransi dilakukan kepada pihak-pihak yang berbeda secara keyakinan. Islam yang rahmatan ini dapat tercipta dengan penataan hati yang baik, yang kemudian membuahkan akhlak karimah. Realitanya, seorang Muslim lebih mudah untuk bertoleransi kepada pihak eksternal (misalkan umat Islam kepada umat Kristen; dan lainnya), dibandingkan bertoleransi kepada pihak internal, atau sesama umat Islam yang berbeda mazhab. Hal ini membuat sesama umat Islam kerap dihadapkan pada problematika memonopoli kebenaran, menyesatkan bahkan mengkafirkan liyan yang notabenenya sama-sama beragama Islam. Kondisi ini perlahan-lahan membuat umat Islam menjadi begitu eksklusif terhadap mazhab yang diikuti. Tentu juga secara lebih lanjut akan berdampak pada bagaimana memandang perbedaan lainnya. Kita tentu bertanya-tanya, bagaimana solusi untuk menghindari keeksklusifan tersebut, agar kehidupan bertoleransi dapat dirasakan dalam berbagai bentuk relasi kehidupan yang menjadi keniscayaan?

Alwi Shihab meneguhkan, bahwa pada dasarnya kita harus senantiasa membersihkan hati kita. Beliau mengutip Imam Ghazali, dalam perspektif Tasawuf: bahwasanya kalau hati dalam kondisi bersih, maka akan turun cahaya dari Allah Swt. ke dalam hati orang-orang yang berhati bersih tersebut; dan dari situ, seseorang tersebut dapat melihat segala keadaan secara terang, baik, dan tidak akan ada prasangka (prejudice) terhadap orang lain. Ya, masing-masing kita bisa membayangkan, kondisi bagaimana yang tercipta seandainya sesama manusia tidak memiliki prasangkan pada lainnya; perpecahan dan pertikaian tentu menjadi hal yang dapat terhindarkan.

Bagi Alwi Shihab, inti dari toleransi adalah: kita bisa menerima pandangan orang lain. Termasuk dalam pemaknaan ini adalah tentang bagaimana kita bisa menerima bahwa mereka (yang berbeda) itu mempunyai pandangan dan sikap yang sama sebagaimana pandangan dan sikap kita terhadap agama (maupun mazhab) yang kita pilih. Sehingga, kita tidak patut menganggap bahwa mereka itu adalah orang kafir atau juga sesat, karena Alquran tidak menganggap bahwa mereka itu semuanya sesat. Tidak demikian, karena dari mereka juga ada yang baik; seperti yang disampaikan dalam QS. Ali ‘Imran, 113:

لَيْسُوْا سَوَاۤءًۗ مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ اُمَّةٌ قَاۤىِٕمَةٌ يَّتْلُوْنَ اٰيٰتِ اللّٰهِ اٰنَاۤءَ الَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُوْنَ  

“Mereka itu tidak sama; di antara ahli kitab itu ada golongan yang berlaku lurus,  mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang).”

Dengan demikian, bertoleransi artinya adalah kita menerima perbedaan, tidak mudah berprasangka buruk, tidak mencaci, dan tidak juga mendiskreditkan liyan. Ini adalah indikator-indikator terbaik dalam menunjukkan sikap toleransi.

Alwi Shihab tidak sekedar menguatkan pandangan toleransinya ini berdasarkan teks Alquran, ia juga menceritakan bagaimana sang Nabi Muhammad saw. sebagai sosok teladan yang nyata dalam bertoleransi. Ia mengajak kita untuk berada di era Nabi Muhammad saw., tepatnya saat jenazah orang Yahudi lewat, dan Nabi Muhammad saw. yang mulanya sedang duduk kemudian berdiri. Sahabat Nabi saw. yang melihat perubahan posisis tubuh tersebut bertanya pada Nabi saw. dengan heran, “Itu orang Yahudi!?!” Ya, dalam konteks saat itu, orang Yahudi Madinah sedang memiliki konotasi buruk bagi komunitas Islam, karena ada di antara mereka (tentunya tidak semua) yang menghianati perjanjian dengan Nabi saw. dan komunitas Islam. Mendengar celetukan sahabat, Nabi saw. menjawab, “(berganti posisi menjadi berdiri) artinya, bukan karena dia Yahudi lalu saya tidak menghormati jenazahnya. Bukankah dia itu adalah manusia yang dimuliakan oleh Allah karena Bani Adam as.? Kami (Tuhan) telah memuliakan anak adam; artinya manusia.” Apa yang dikatakan Nabi. Saw tersebut juga sejalan dengan QS. Al-Israa’, 70:

 وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا

“Sangat kami muliakan keturunan Adam dan kami sebarkan segala yang berada di darat dan di lautan, juga kami mengutamakan mereka lebih utama dari makhluk lainnya.”

Alwi Shihab memberi penjelasan atas ayat ini, bahwasanya jika kita mempunyai sifat ini -yakni menghormati sesama manusia, walaupun kita tidak menghormati tindakannya yang tidak sesuai dengan kita, tapi kita menghormatinya sebagai manusia-, maka itu adalah pangkal untuk kita semua bertoleransi. Langkah-langkah dan cara bertoleransi mungkin beragam, namun pangkal atau dasar utama yang dapat mempermudah bertoleransi adalah kesadaran bahwa sesama manusia harus saling memuliakan dan menghormati. Sesama manusia harus dapat menjaga hak diri dan juga hak manusia lainnya. Kesadaran ini akan membuat kita tidak berperasangka buruk dan tidak ingin mengusik kenyamanan hidup orang lain; karena kita sungguh menyadari bahwa anak Adam dilahirkan berbeda-beda dan memiliki kemerdekaan untuk memilih apa yang baik menurutnya, selama tidak menjadi kemudaratan untuknya dan untuk sesamanya.

Perihal keeksklusifan dalam bermazhab, Alwi Shihab mengatakan bahwa umat Islam tidak wajib untuk mengikuti satu mazhab tertentu. Pernyataan ini akan membuka ruang bagi umat Islam untuk mengetahui, memahami dan mengambil manfaat dari keberadaan mazhab lainnya. Dengan demikian fanatisme mazhab juga dapat terhindarkan. Alwi Shihab juga mengungkap, bahwa saat ini sudah ada upaya yang menuju pada pemahaman: Saya bukan mazhab ini, bukan mazhab itu, tetapi saya adalah Muslim yang mengikuti Alquran dan Hadis. Pernyataan ini mungkin saja terjadi, karena mazhab sendiri adalah kumpulan dari pendapat-pendapat yang sejalan. Seperti contoh mazhab Syafi’i, mazhab ini adalah kumpulan pendapat Imam Syafi’i sampai turun ke bawah melalui sanad murid-muridnya secara sistematis hingga sekarang. Mereka semua ini turun-temurun mengikuti pendapat yang asalnya dari Imam Syafi’i dan lestari diteruskan sampai sekarang. Demikian pula yang terjadi pada mazhab Hanafi, Maliki, Hanbali, dan lainnya. Masing-masing dari mazhab yang ada dalam komunitas Islam tidak luput dari kesalahan; sehingga, kita jangan menganggap bahwa kalau kita tidak mengikuti satu mazhab tertentu, lalu kita mengambil sebagian dari pandangan mazhab lain untuk kita terapkan dalam kehidupan kita, maka yang demikian adalah hal yang salah. Tentu tidak demikian, karena umat Islam tidak wajib untuk mengikuti satu mazhab saja.

Menguatkan pernyataan tentang kebolehan mengikuti lebih dari satu mazhab, Alwi Shihab mengisahkan, bahwasanya dahulu pernah ada orang yang berpendapat bahwa kalau sudah mengikuti mazhab Syafi’i maka orang bersangkutan tidak boleh mengambil mazhab yang lain (talfiq). Ringkasnya, seseorang hanya boleh konsisten mengikuti satu mazhab saja; kalau sudah mengikuti mazhab Syafi’i dalam bidang tertentu, misalnya pernikahan, maka tidak diperkenankan mengambil mazhab yang lain yang kelihatannya lebih mudah dilaksanakan dibandingkan mazhab Syafi’i. Hal demikian ini menurut Alwi Shihab tidak bisa dibenarkan, karena selama kita berpegang pada Alquran dan Hadis, maka kita akan selamat dari rongrongan orang-orang yang fanatik terhadap mazhab (yang mengatakan bahwa kamu harus dengan mazhab ini/itu).

Tidak adanya kewajiban mengikuti satu mazhab tertentu menghasilkan adanya usaha-usaha umat Islam abad ke-20 saat ini untuk melakukan taqarrub bayn al-madzaahib, yakni sebuah usaha untuk mendekatkan satu mazhab dengan mazhab yang lain. Usaha ini adalah pendapat yang bisa direkonsiliasi atau dipertemukan, sehingga umat Islam tidak perlu fanatik. Alwi Shihab memberikan contoh, jadi seumpamanya seseorang solat dengan cara A, itu berarti Syafi’iyyah; kalau solat dengan tangannya yang turun/cara B, berarti Malikiyyah atau Syi’ah. Apabila kita melihat cara seseorang solat dengan cara A, B, dan lainnya, dan kemudian kita menganggap solat mereka tidak sah, maka anggapan kita itu tidaklah benar. Agar tidak mudah menghakimi tata cara ibadah orang lain, maka umat Islam dianjurkan untuk banyak membaca, banyak melakukan riset; sehingga kita tidak menjadi pengikut mazhab yang buta, melainkan umat beragama yang sudah belajar dan terpelajar. Lantas bagaimana dengan umat beragama yang awam atau tidak memiliki kemampuan memahami ajaran agama yang mumpuni? Alwi Shihab menganjurkan untuk seseorang tersebut wajib mengikuti gurunya. Adapun hal penting dalam mencari guru bagi orang awam adalah untuk mencari guru yang tidak mengajarkan fanatisme. Ini pula menjadi anjuran bagi para guru yang diikuti awam, agar tidak mengajarkan fanatisme kepada para pengikutnya.  Yang demikian adalah keharusan, karena kalau diajarkan fanatisme, maka yang terjadi kemudian adalah lahirnya generasi yang fanatik –yang mengkafirkan satu dan lainnya-.

Usaha untuk mengurangi fanatisme beragama (khususnya bermazhab), ini dibuktikan dengan adanya Message of Amman, yang diawali dari pertemuan 20 tokoh Islam dunia dari berbagai mazhab (Sunni, Syi’ah, Ibadi, dan sebagainya) hingga diperkokoh dengan deklarasi dari 500 tokoh Islam pada tahun 2004, dan kembali di deklarasikan di OKI (Organisasi Kerja sama Islam) pada tahun 2006. Pada forum ini dinyatakan bahwa Message of Amman setidaknya dapat mengurangi citra buruk Islam di dunia Barat saat ini disebabkan lahirnya kelompok-kelompok Islam garis keras. Di antara Islam garis keras tersebut seperti ISIS yang membunuh banyak pihak dimana-mana, Boko Haram yang menculik di berbagai tempat, maupun Salafi Jihadi yang mau membunuh orang karena menganggap bahwa perbuatan membunuh tersebut sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah Swt. Tindakan kelompok Islam garis keras ini menjadikan citra Islam di Barat menjadi terpuruk. Atas dasar dinamika tersebut, pada saat itu Raja Abdullah mengumpulkan para ulama, termasuk Syekh Azhar dan para tokoh Syi’ah untuk berunding bagaimana cara agar umat Islam tidak diombang-ambingkan oleh pendapat yang berbeda antara satu sama lain. Turut hadir dalam pertemuan tersebut Syekh Yusuf Al Qardawi yang dikenal sebagai ulama yang moderat dalam dunia Islam abad ke-20.

Usaha-usaha untuk menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang penuh kasih sayang dan bukan berisikan kekerasan senantiasa dilakukan oleh para tokoh agama (termasuk tokoh agama lintas iman). Namun pada umumnya, masalah yang timbul dari kelompok-kelompok garis keras disebabkan masuknya kepentingan politik ke dalam pemahaman keagamaan yang menjadikan musuh di bidang politik juga dijadikan musuh di bidang agama. Atas dasar ini, Alwi Shihab mengharapkan agar perilaku-perilaku toleransi yang terdapat di daerah-daerah yang ada di Indonesia dapat diperkokoh dan dijadikan contoh bagi daerah lainnya. 

Paparan dari Alwi Shihab ini menyadarkan kita semua untuk memandang perbedaan dengan tidak menafikan hakikat persamaan kita semua, yakni sama-sama manusia yang masih dalam satu keturunan, Adam as. Apapun agamanya, mazhabnya, sukunya, bangsanya, rasnya, bahasanya, negaranya, kita semua adalah sama-sama manusia yang harus dilindungi jiwa-raganya. Pemahaman agama yang berbeda (dan segala perbedaan yang tercipta di dunia) tidak boleh kita gunakan untuk menciderai perasaan, fisik, juga menghilangkan keamanan dan kenyamanan sesama manusia lainnya.(IL/AKR)

Nonton Juga

C

Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.

Komentar (0)
L
× Silakan LOGIN untuk berkomentar.