U

Kenapa Intoleransi Masih Terjadi, dan Bagaimana Peran Guru❓

Refleksi Podcast Episode 82

Cegah Radikalisme Beragama dengan Banyak Membaca

Pendidikan akhlak atau pendidikan karakter merupakan kurikulum yang dipriroritaskan oleh berbagai lembaga pendidikan, khususnya lembaga pendidikan keagamaan. Kurikulum ini merupakan bagian dari kepanjangan misi yang diberikan pada Nabi Muhammad saw., yakni untuk menyempurnakan akhlak. Pendidikan akhlak yang ditanamkan dalam kegiatan belajar-mengajar di lingkungan sekolah, juga lingkungan masyarakat, tidak serta merta mampu menghilangkan isu-isu radikalisme, intoleransi dan kekerasan. Banyak dari kita yang bertanya-tanya, apa yang harus kita lakukan agar isu-isu yang membahayakan kehidupan manusia tersebut dapat diminimalisir? Secara spesifik, apa yang dapat para guru (guru di sekolah, orang tua di rumah, dan peran sebagai guru di berbagai ruang kehidupan lainnya) lakukan untuk menghindari hal-hal tersebut? 

Alwi Shihab merespon kekhawatiran ini dengan mengajak kita semua untuk melihat apa yang terjadi di dunia secara global. Ya, akhir-akhir ini Islam dikecam sebagai agama yang jauh daripada apa yang diketahui dan melekat dari Nabi Muhammad saw. sebagai pempawa ajaran, yakni, “bu’itstu liutammima makarimal akhlaaq,” yang artinya, “Saya diutus untuk menyempurnakan budi pekerti.” Alwi Shihab mengajak kita untuk berpikir bersama dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini: Apakah budi pekerti yang baik itu (adalah) membunuh orang?; Apakah budi pekerti yang baik itu (adalah) mengecam orang?; Apakah budi pekerti yang baik itu (adalah) mengkafir-kafirkan orang? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan memberikan peneguhan, bahwasanya perbuatan-perbuatan yang demikian itu jauh dari keteladan yang Nabi Muhammad saw. contohkan. Hal ini kemudian mengakibatkan munculnya islamofobia di Barat. Islamofobia adalah ketakutan terhadap agama Islam karena Islam dianggap sebagai agama yang keras, agama yang tidak rahmatan lil ‘aalamiin (tidak membawa rahmat bagi alam semesta), agama yang mengedepankan kekerasan, agama yang mengajarkan jihad dengan harus membunuh sana-sini. 

Alwi Shihab juga mengajak agar kita membaca fenomena yang terjadi di Timur-Tengah beberapa dekade belakangan ini. Bersama dapat kita saksikan bagaimana perang terjadi antar sesama orang Islam. Seperti contoh di Yaman, juga di Syiria (dua kelompok di Syiria masing-masing dibantu oleh Saudi dan Iran); semuanya yang berkonflik ini adalah sesama orang Islam. Demikian pula yang terjadi di Libya, konflik sesama orang Islam di sana disebabkan adanya motif kekuasaan dan kerakusan. Padahal Libya adalah negara yang sangat kaya, karena semuanya ingin menguasai, hingga tercetuslah konflik antar sesama orang Islam di sana. Adapun korban dari konflik-konflik yang terjadi di negara-negara Timur-Tengah antar sesama orang Islam tentunya adalah orang-orang Islam pula. Termasuk para korban dari ISIS. Korban ISIS itu jauh lebih besar dan banyak kepada orang Islam daripada non Muslim.

Berdasarkan realita-realita yang terjadi di banyak negara Timur-Tengah ini, Alwi Shihab mengajak agar kita semua bersama-sama harus dapat memperbaiki keadaan. Memperbaiki keadaan dapat dimulai dari diri kita sendiri, keluarga kita, juga masyarakat kita. Jangan sampai kekuatan lain memporak-porandakan kita. Kekuatan lain ini adalah kekuatan yang tidak ingin melihat Islam kembali maju. Bagaimanapun, peradaban Islam pernah maju, dan kekuasaannya tiga kali lipat dari kekuasaan Romawi. Pada masa tersebut, Islam digambarkan bagaikan api yang menjalar dan tidak bisa dibendung. Hal ini dapat terjadi karena pada saat-saat tertentu, orang-orang Islam mengikuti ajaran yang benar. Lalu, dengan adanya kekalahan demi kekalahan, timbullah upaya untuk mereformasi.

Lebih lanjut, Alwi Shihab menjelaskan bahwa radikalisme dapat lahir dari pandangan yang sempit dari suatu mazhab/pandangan, yang akhirnya karena kekuatan dolar yang begitu kuat, pandangan radikal tersebut dapat didiseminasi secara luas dan cepat. Alwi Shihab mengungkapkan, data ini diakui oleh banyak pihak. Jadi, Saudi dan teman-temannya pada masa sebelum Raja Salman yang sekarang berkuasa, Saudi membiayai pandangan dan gerakan radikalisme ini dengan nominal jutaan dolar yang diberikan kepada orang-orang yang baru lulus dari lembaga-lembaga pendidikan di Saudi. Orang-orang tersebut sengaja dibiayai untuk menyebarkan pandangan Salafi. Salafi ini ada yang baik, tapi juga ada yang keras. Salafi dengan kategori baik adalah yang tidak menganut Salafi Jihadi (Jihadi bertempur, yang menggunakan kekerasan kalau perlu dalam melakukan perubahan). Dengan kata lain, Salafi dalam bidang pemahaman saja adalah tidak apa-apa dan tidak membahayakan kehidupan sesama manusia lainnya.

Saat ini Saudi justru merasakan, apa yang mereka lakukan di masa lampau dalam pembiayaan pandangan dan gerakan radikalisme tersebut (propaganda), justru menghasilkan tokoh-tokoh membahayakan seperti Osama bin Laden. Juga menghasilkan gerakan Boko Haram, yang menculik anak-anak sekolah dan membunuh orang-orang yang tidak sejalan dengan mereka. Termasuk yang terjadi di Mesir, yakni kehadiran Al-Takfir Wal-Hijrah yang membunuh Presiden Anwar Sadat; yang demikian ini lantas menjadi cikal-bakal dari lahirnya Salafi Jihadi. Alwi Shihab membeberkan, sebenarnya kelompok-kelompok radikal ini merasa bahwa mereka sedang mempertahankan ajaran Islam yang sejati, tetapi tidak memikirkan dan melihat konsekuensinya. Konsekuensinya yang dapat bersama kita rasakan atau amati sekarang adalah seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, yakni adanya islamofobia yang membuat orang Barat masih melihat Islam dengan mata yang tidak positif.

Rentetan realita sebab-akibat yang menakutkan ini seyogyanya menjadi titik mula dimana kita perlu mensosialisasikan Islam yang sejuk, Islam yang penuh cinta, Islam yang tidak mudah untuk menyalahkan orang lain, apalagi menyesatkan orang lain. Kita diperbolehkan duduk berdiskusi bersama mereka yang berbeda, namun harus dengan kondisi tenang, bukan dengan cara, “Kamu kafir!; Kamu sesat!; Kamu tidak boleh begini!; Kamu tidak boleh begitu! Dan inilah yang menjadi tugas dari guru-guru. Baik itu para guru di sekolah, maupun para orang tua sebagai guru di rumah. Bagi semua yang berperan menjadi guru di berbagai ruang kehidupan, Alwi Shihab berpesan, “Didiklah anak-anak itu untuk banyak membaca dan berusaha untuk memahami pandangan orang lain. Dan jangan serta-merta menolak (pandangan yang berbeda) begitu saja tanpa pemikiran yang sehat dan seksama. Saya kira ini adalah pekerjaan rumah yang besar, tapi harus dimulai dari sekolah dan dari rumah. Jadi, kalau ada hal-hal yang kecil (perbedaan yang diperdebatkan), jangan menjadi pertikaian.”

Pesan dari Alwi Shihab ini merupakai rangkaian usaha dalam mencegah radikalisme secara lebih dekat dan nyata. Diawali dengan mendidik anak-anak untuk banyak membaca. Membaca di sini tidak sekedar membunyikan apa yang dituliskan, melainkan memfungsikan hati dan akal dalam menganalisa teks yang dibaca. Sehingga, dari proses membaca dapat membawa sang pembaca untuk memahami pandangan orang lain. Sang pembaca dapat memiliki perspektif baru yang berbeda dari yang sebelumnya. Jika telah pada tahap demikian, seseorang tidak akan mudah menolak apa-apa yang berbeda dari apa yang ia yakini, karena ia menyadari bahwa pandangan orang lain akan sangat beragam sebagaimana ia juga menjadi bagian dari keberagaman itu.

Alwi Shihab kembali menjelaskan, bahwasanya apa yang terjadi di dunia Islam saat ini sangat-sangat menyedihkan, khususnya terkait islamofobia. Alwi Shihab mengisahkan, dulu di Amerika, orang mau membangun masjid itu prosesnya mudah. Adapun sekarang, setelah terjadinya pemboman di New York, 9/11, orang-orang Amerika takut kalau ada Islamic Center atau juga masjid. Kendati demikian, islamofobia ini dapat perlahan dihilangkan dan dirubah dengan cara ‘keteladanan.’ Seorang Muslim di Barat harus memberikan keteladanan bahwa Islam itu bukan ISIS (dan serupanya). Seorang Muslim di Barat harus memberikan keteladanan bahwa Islam itu santun dan baik. Dalam konteks Indonesia, Alwi Shihab mengatakan bahwa Islam di Indonesia sampai hari ini masih dianggap sebagai Islam yang lebih santun. Namun Alwi Shihab memberikan penegasan pada pernyataannya tersebut, “Saya tidak katakan santun, (namun hanya) lebih santun dari beberapa negara Muslim di dunia ini. Tetapi jangan menganggap bahwa kelompok-kelompok yang mau mengubah sesuatu dengan kekerasan dan menanamkan atau membawa nama Islam, perlu kita contoh. Kita perlu menasehati mereka, jangan kita membawa agama apabila kita akan menunjukkan kekerasan kepada sesama kita.”

Apa yang disampaikan Alwi Shihab dalam isu ini setidaknya memberikan beberapa langkah yang harus kita lalui dalam agenda mencegah radikalisme pada generasi bangsa, yakni: pertama, mendidik mereka dengan banyak membaca yang membawa mereka pada siklus: memiliki wawasan yang luas, memahami pandangan orang lain, menghargai pandangan orang lain; kedua, menjadi bagian dari misi pengutusan Nabi Muhammad saw., yakni memberikan teladan budi pekerti yang baik, yang membawa kemaslahatan dan kemanfaatan untuk kehidupan semua makhluk; ketiga, menasehati kepada mereka yang disinyalir sedang terpapar paham radikal dengan cara yang baik. Alih-alih mengeluh dan mengkritisi fenomena yang menyudutkan Islam, alangkah baiknya jika kita semua mengambil peran sebagai agen perubahan Islam yang rahmatan.(IL/AKR)

Nonton Juga

C

Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.

Komentar (0)
L
× Silakan LOGIN untuk berkomentar.