Tafsir Surat Ali-Imran ayat 85: Agama Selain Islam
Audio
Refleksi Podcast Episode 81
Menelaah Isu Moderasi Beragama dalam Perbedaan Penafsiran QS. Ali ‘Imran Ayat 85
Umat Islam sama-sama mengetahui, terdapat ayat dalam QS. Ali ‘Imran ayat 85 yang berbunyi:
وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُۚ وَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ
Yang umumnya diterjemahkan dengan, “Barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat, dia termasuk orang yang merugi.” Ayat ini dapat memicu intoleransi jika dibaca secara litterlijk, sehingga diperlukan penafsiran oleh ulama yang ahli agar teks tersebut memiliki relevansi konteks di berbagai zaman dan memenuhi spirit Islam yang rahmatan. Institut Leimena mencoba mengupayakan memberikan wawasan perihal ayat tersebut dengan menghadirkan Alwi Shihab sebagai ulama yang dapat dijadikan rujukan dalam isu ini.
Membuka paparannya, Alwi Shihab mengatakan, bahwa dalam memahami ayat ini, tentu kita perlu mengundang/menggali penafsiran-penafsiran yang telah ada sebelumnya. Adapun penafsiran atas ayat ini sungguh beragam: pertama, ada ulama yang menafsirkan, “Siapa saja yang mencari agama selain agama Islam (yaitu agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.), maka ia tidak akan diterima.” Kedua, banyak pula ulama yang menganggap bahwa apa yang dimaksud dengan agama Islam, pada hakikatnya adalah agama di sisi Allah itu adalah Islam (tidak merujuk pada agama yang dibawa Nabi Muhammad saw. saja). Sebagaimana QS. Ali ‘Imran, 19:
اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُۗ …
Sehingga, berdasarkan pemaknaan kedua ini, maka kata diin itu berbeda dengan kata syariat. Diin itu agama yang direstui oleh Allah Swt., dan diin disini adalah Islam. Diin al-Islaam adalah agama yang memiliki sifat kepatuhan oleh para penganutnya, dan pasrah kepada kehendak Allah Swt. Itulah yang dimaksud dengan Islam. Jadi, Islam dalam pemaknaan ini tidak spesifik sebagai agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. saja.
Pendapat kedua ini dikukuhkan pula dengan pendapat yang menganggap bahwa Islam sebagai diin memiliki syariat yang berbeda-beda, yakni syariat agama Yahudi, syariat agama Kristen, dan syariat agama Islam. Kendati syariatnya berbeda-beda, tetapi diin yang direstui Allah Swt. hanya satu, yaitu agama yang menunjukkan kepatuhan (submission): patuh kepada Allah Swt. dan pasrah kepada Allah Swt. Sikap submission yang demikian bisa saja menghimpun beberapa syariat yang ada, yaitu menghimpun syariat orang Kristen, orang Yahudi dan orang Islam. Pendapat ini berdasarkan QS. Al-Syuraa, 13:
شَرَعَ لَكُمْ مِّنَ الدِّيْنِ مَا وَصّٰى بِهٖ نُوْحًا وَّالَّذِيْٓ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهٖٓ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى وَعِيْسٰٓى اَنْ اَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَلَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِۗ…
“Telah Allah syariatkan kepada kalian dari agama, yakni agama yang telah diwasiatkan kepada Nabi Nuh, dan yang juga Kami wahyukan kepada kamu, wahai Muhammad; dan Kami juga wasiatkan kepada Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Isa untuk mendirikan, menegakkan agama (bukan syariat, tetapi agama) dan jangan bercerai-berai…”
Ulama-ulama yang memberi pemaknaan pada makna kedua ini menganggap bahwa hanya ada satu diin, yaitu Islam, yang menghimpun syariat yang berbeda-beda. Pemaknaan ini juga dikukuhkan oleh QS. Al-Maidah, 48:
…لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَّمِنْهَاجًاۗ وَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَجَعَلَكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلٰكِنْ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ
“Kami jadikan kalian memiliki syariat dan jalan menuntun umat, memuntun pengikutnya; kalau Tuhan menghendaki, niscaya Tuhan bisa menjadikan kalian ini satu kelompok -satu umat, satu syariat-, tetapi Allah mau melihat, menguji kalian yang berbeda-beda syariat ini, bagaimana komitmen kalian terhadap agama yang dibawa oleh nabi-nabi yang tadi disebutkan (Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Muhammad saw.); untuk itu jangan bertikai, tetapi berlomba-lombalah untuk menciptakan kebajikan.”
Dengan kata lain, perbedaan antara agama Islam, agama Yahudi dan agama Kristen itu adalah dalam bentuk syariat (ketentuan-ketentuan hukum), bukan dalam bentuk agama. Agama adalah diin, itu yang satu sebagaimana dimaksudkan dalam Alquran. Agama satu ini adalah millah Ibraahiim, yakni jalannya Ibrahim as., agamanya Nabi Ibrahim as. Itulah mengapa Nabi Ibrahim as. dianggap sebagai ab al-anbiyaa’, bapaknya para nabi. Dan Allah menetapkan pada Nabi Ibrahim as.:
…قَالَ اِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ اِمَامًاۗ
Yang artinya, “Saya jadikan kau, wahai Ibrahim, sebagai pemimpin bagi seluruh manusia” (QS. Al-Baqarah, 124). Ini bermakna bahwa millah Ibraahiim itu mencakup syariat-syariat yang berbeda-beda, yang kemudian syariat berbeda-beda ini kita namakan agama. Padahal sebenarnya yang dimaksud agama pada millah Ibraahiim adalah agama tauhid, agama monoteis.
Umat Islam dianjurkan untuk mengikuti Nabi Ibrahim as., sebagaimana QS. Al-Rum, 30:
فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ…
Yang artinya, “Tegakkan wajahmu kepada agama yang hanif, yang suci, yang menyerahkan diri kepada Yang Maha Kuasa.” Millah Ibraahiim sebagai agama tauhid, agama yang hanif, juga disebutkan dalam QS. Ali ‘Imran, 67:
مَاكَانَ اِبْرٰهِيْمُ يَهُوْدِيًّا وَّلَا نَصْرَانِيًّا وَّلٰكِنْ كَانَ حَنِيْفًا مُّسْلِمًاۗ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
Yang artinya, “Nabi Ibrahim itu sama sekali bukanlah penganut Yahudi atau Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang menganut agama yang suci, bersih dan muslim.” Muslim di sini artinya menganut agama Islam yang bersifat kepatuhan dan kepasrahan pada Allah Swt. Demikianlah yang disampaikan oleh Alquran. Alwi Shihab kemudian menegaskan, bahwa kita sebagai Muslim, dianjurkan untuk tidak meninggalkan dunia ini, kecuali kita betul-betul pasrah kepada Allah Swt., sebagaimana QS. Ali ‘Imran, 102:
…وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
“…Dan janganlah sekali-kali kamu meninggal dunia melainkan dalam keadaan Muslim.”
Pada ayat tersebut dikatakan bahwa “Jangan sekali-kali kamu mati/meninggalkan dunia ini dalam keadaan Muslim,” dan tidak disebut bahwa, “Jangan kamu tinggalkan dunia ini, kecuali kamu beragama Islam yang dianut oleh atau dibawa oleh Nabi Muhammad saw. saja.” Dengan demikian, agama Islam pada pengertian ini menuntut tiga hal: keesaan Tuhan, percaya kepada hari kemudian, dan beramal saleh di dunia. Alwi Shihab mengungkapkan, bahwa tidak semua ulama Islam sependapat dengan pendapat kedua ini. Tetapi, pendapat ini menjadi pendapat yang cukup dapat dipertanggung-jawabkan dari segi pemahaman. Maka apabila melihat perbedaan-perbedaan syariat, kita dapat melihat bahwa syariatnya Nabi Musa as. kadang-kadang lebih keras, syariatnya Nabi Isa as. lebih longgar, syariatnya Nabi Muhammad saw. juga mungkin lebih longgar; dan ini yang menjadi perbedaan antar syariat-syariat tersebut. Kendati kita memiliki syariat yang berbeda-beda, Alwi Shihab mengajak agar semua pemeluk syariat berbeda ini untuk menciptakan titik temu dalam semangat persatuan. Sebagaimana QS. Ali ‘Imran, 64:
…تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍ ۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا…
Yang esensi ayat tersebut berbunyi, “Mari kita mencari titik temu di antara kita! Apa titik temu itu? Yakni merefleksikan agama Islam sebagai agama patuh dan pasrah. Patuh dan pasrah bermakna ‘Kami tidak berbakti dan kami tidak pasrah kecuali kepada Allah Swt., dan kami tidak mensekutukannya dengan siapapun, atau dengan apapun.”
Penjelasan yang diberikan Alwi Shihab ini memberi wawasan baru kepada kita semua sebagai pembaca. Wawasan kita menjadi bertambah dan tidak tunggal. Wawasan kita mungkin berubah, dan pandangan kita pun mungkin berubah. Alwi Shihab juga mengajarkan pada kita, bahwa perbedaan pendapat bukanlah untuk diperdebatkan atau digunakan untuk memonopoli penafsiran; melainkan dapat kita gunakan sebagai bahan rujukan mencari sumber moderasi beragama yang mungkin kita butuhkan dalam realita kehidupan yang selalu berdampingan dengan perbedaan. Perbedaan penafsiran adalah sumber keberagaman cara berpikir yang menuntun kita untuk senantiasa aktif mencari apa yang terbaik untuk diri sendiri; dan kemudian menjadi asas kebahagiaan bersama, walau tak sama. Perbedaan bukanlah alat perpecahan, perbedaan adalah alat mencari perdamaian dalam berlomba-lomba mewujudkan kebajikan.(IL/AKR)
Nonton Juga
Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.