U

Formula Paten Menekan Tabiat Saling Menghujat Perkara Agama

Refleksi Podcast Episode 77

Meningkatkan Kualitas Diri dengan Membuang Sifat Suka Menghujat

Manusia diciptakan akal dan nafsu untuk dapat bertahan hidup. Akal adalah pembeda manusia dengan makhluk lainnya, dan nafsu adalah hal yang sama-sama dimiliki semua makhluk yang bernyawa. Nafsu dibutuhkan manusia agar mereka dapat menjalankan kehidupan di dunia dengan semestinya. Nafsu perlu dikelola agar dapat terkontrol dan tidak menimbulkan kerugian. Manusia memerlukan nafsu merasa lapar untuk memenuhi hajat makan dan minumnya, namun nafsu ini perlu diatur agar makan dan minum tidak menjadi hal yang membahayakan. Manusia memerlukan nafsu untuk berkembang-biak dalam misi regenerasi, namun nafsu ini perlu dikelola melalui jalan yang dihalalkan agar tidak merugikan banyak pihak. Demikian juga dengan fungsi akal, akal adalah anugrah istimewa yang diberikan pada manusia agar manusia mengetahui mana yang baik dan buruk untuk dipilih dan dilakukan. Fungsi akal harus pula dikelola dengan bijak, agar tidak digunakan untuk melakukan hal-hal yang dapat mendatangkan kemudaratan bagi diri sendiri dan orang lain. Akan tetapi, terkadang manusia belum sepenuhnya mampu mengenal dirinya, sehingga akal dan nafsunya difungsikan dengan tidak terkendali. Seperti masih tampaknya sifat suka menghujat dan mengolok-olok kepada liyan, karena masing-masing diri kita masih banyak yang merasa bahwa fungsi akal kita yang paling baik, sehingga pandangan kitalah yang paling benar. Akhirnya, dengan dorongan nafsu, menghujat dapat menjadi bagian dari akhlak tercela yang melekat pada diri kita dan sulit untuk dikendalikan. Adakah cara, trik, formula yang ampuh untuk meredam sifat tercela ini, khususnya dalam kasus saling menghujat terhadap perkara agama yang berbeda-beda?

Alwi Shihab merespon pertanyaan ini dengan mengkategorikan pertanyaan sebagai bagian dari isu toleransi antar umat beragama. Ia memberikan 2 ayat Alquran yang dapat menjadi dasar utama dalam menciptakan toleransi yang berasal dari pemahaman diri yang baik terhadap syariat Tuhan. Pertama, yakni QS. Saba’, 25:

قُلْ لَّا تُسْـَٔلُوْنَ عَمَّآ اَجْرَمْنَا وَلَا نُسْـَٔلُ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ

Alwi Shihab menerjemahkan ayat ini dengan makna, “Katakan (wahai Muhammad) kepada mereka yang non muslim, kamu tidak akan bertanggung jawab terhadap kesalahan yang kami lakukan, dan kami juga tidak akan ditanya atau mempertanggung jawabkan terhadap apa saja yang kamu lakukan.” Esensi dari ayat ini adalah agar masing-masing kita tidak akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang kita masing-masing lakukan. Jadi, untuk apa kita harus menghabiskan energi memeriksa, mengkritisi, dan mengejek apa yang dilakukan oleh kelompok lain yang tidak membahayakan keselamatan kita. 

Perihal mana yang salah dan benar di antara kelompok yang berbeda-beda, Alwi Shihab melanjutkan terusan ayat, yakni QS. Saba’, 26:

قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّۗ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيْمُ

“Katakan (wahai Muhammad), kita nanti akan dipertemukan Tuhan dan akan dibuka siapa di antara kita yang benar dan siapa di antara kita yang salah. Dialah Tuhan yang bisa membuka segala sesuatunya dan Yang Sangat Maha Mengetahui.”

Esensi ayat ini adalah: kita tidak diberi jalan untuk menghujat. Kita katakan bahwa apa yang mereka lakukan, kita tidak bertanggung jawab; dan dosa yang kita lakukan sebagai umat Islam juga mereka tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, seyogyanya kita semua dapat bekerja sama dalam rangka menciptakan masyarakat yang sejahtera, karena nanti kita semua akan kembali kepada Yang Maha Kuasa, sebagaimana QS. Al-Maidah, 48:

…اِلَى اللّٰهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَۙ  

“…Kepada Tuhan destinasi akhir kita, lalu nanti Tuhan lah yang membuka siapa di antara kita yang benar dan yang salah.”

Alwi Shihab memberi simpulan, bahwasanya sebagai pengikut ajaran Nab Muhammad saw., kita tidak boleh mencaci, apalagi mengatakan surga itu monopoli kita. Dalam hal ini, kita katakan bahwa menurut agama kita, kita merasa kita yang paling benar; tetapi kita juga menghormati keyakinan mereka yang menganggap keyakinan mereka juga yang paling benar. Kita yang berbeda ini tidak akan ketemu dalam ruang keimanan ini, oleh karena itu, kita dapat berkata demikian sebagaimana yang dicontohkan dalam ayat-ayat yang telah disebutkan: kamu tidak bertanggung jawab terhadap kesalahan yang kami lakukan, kami juga tidak akan ditanya kenapa kamu lakukan ini dan itu. Ini merupakan cara berinterkasi yang bersahabat. Lalu selebihnya, kita serahkan semuanya kepada Tuhan YME.

Menjadi bagian dari interaksi yang bersahabat adalah dengan tidak mengejek pada kelompok yang berbeda. Alquran sangat mengecam sifat tercela ini, sebagaimana QS. Al-An’am, 108:

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَيَسُبُّوا اللّٰهَ عَدْوًا ۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْۖ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

“Jangan sekali-kali umat Islam mengejek atau menghina tuhan yang disembah kelompok lain. Karena akibatnya, kelompok lain akan kembali menghina  dan mendeskreditkan tuhan yang kamu sembah tanpa mereka ketahui yang sebenarnya.”

Melalui ayat ini sangat gamblang, bahwa tidak ada celah bagi umat Islam untuk mengejek, menyalahkan dan menghakimi apa yang dilakukan dan dipilih oleh kelompok lain terkait segala hal yang menjadi keyakinannya.

Alwi Shihab melanjutkan, adapun ayat kedua yang dapat menjadi dasar utama untuk menciptakan hubungan yang harmonis adalah QS. Al-Kafiruun, 6:

لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ

Agamamu untuk kamu, dan agamaku untukku.”

Artinya, agama kita berbeda dengan agama mereka, dan agama mereka berbeda dengan agama kita. Kita masing-masing percaya kepada agama yang kita ikuti dan kita sama-sama menghamba kepada Tuhan YME. Kelak, di hari kemudian, semua kelompok akan berdiri di hadapan Tuhan, dan Tuhan yang berhak mengatakan: “Kamu salah besar!; Kamu salah (kira-kira tengah salahnya)!; Kamu salahnya sedikit!; Kamu masuk surga!; Kamu masuk neraka!; Kamu masuk surga, tapi setelah dibersihkan!; dan seterusnya. Ini adalah hak mutlak Tuhan, seperti yang tercantum dalam QS. Al-Hajj, 17:

…اِنَّ اللّٰهَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ

Sesungguhnya Allah akan berikan keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menjadi saksi atas segala sesuatu.”

Alwi Shihab memberi pendalaman makna terhadap status tempat tinggal manusia kelak di akhirat. Ia mengatakan, bahwasanya mayoritas ulama-ulama Islam berpandangan: manusia yang masuk neraka itu pada saatnya nanti setelah dibersihkan dari dosa maksiat yang ada pada dirinya, maka dia akan kembali ke Tuhan dalam keadaan yang bersih. Alwi Shihab menekankan, bahwa Allah Swt. itu sangat pemurah, sebagaimana yang sering kita panggil dan mintai setiap hari, paling tidak 17 kali dalam memanggil Rahman dan Rahim dalam salat yang kita lakukan.  Melalui panggilan Rahman dan Rahim, kita mengetahui bahwa Tuhan itu sangat pengasih dan penyayang. Dan tidak mungkin Tuhan Yang Pengasih dan Penyayang mau membiarkan sebagaimana hambanya merana sepanjang masa. Ini adalah pendapat para ulama, termasuk pendapat Ibnu Taymiyah.

Alwi Shihab menarik makna dari pendapat para ulama tersebut, bahwasanya Allah Swt. sebenarnya mau mengajak manusia ini kalau bisa masuk surga semuanya. Alquran menggambarkan surga itu sangat luas, luasnya sebagai al-samaawaati wa al-ardl. Jadi, luasnya itu seperti langit dan bumi, besar sekali, dan nerakanya tinggal sedikit. Perbandingan ini didasarkan pada pernyataan Allah Swt. yang mengatakan bahwa ia tidak akan mengampuni dosa seseorang yang menyekutukan-Nya. Dengan kata lain, hanya menyekutukan-Nya sajalah dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah Swt., dan dosa-dosa lainnya, in sya Allah dapat diampuni. 

Alwi Shihab memberikan simpulan akhir, “Jadi, mudah-mudahan ahlul kitab semuanya percaya kepada Tuhan. Mungkin di situlah arti daripada Tuhan nanti yang akan memvonis yang mana yang masuk surga, yang mana masuk neraka. Jangan sekali-kali kita sebagai manusia yang belum tentu masuk surga –tapi in sya Allah masuk lah-, lalu dengan mudah mengatakan kamu kafir, kamu sesat. Itu urusan Tuhan. Yang Tuhan akan lihat nanti adalah bagaimana kebersihan jiwa kita, bagaimana hubungan kita dengan masyarakat kita, dengan keluarga kita, dengan orang-orang yang butuh. Apakah kita mau membantu mereka, karena sebaik-baik hamba Allah adalah mereka yang bermanfaat kepada sesamanya. Khairukum anfa’ukum li al-naas, bukan khairukum yang paling sering naik haji, tidak! Atau yang paling sering salat malat, tidak! Tapi yang paling banyak manfaatnya kepada orang lain.”

Paparan Alwi Shihab ini mengajarkan kita untuk melakukan proses takhalli yang bermula dari pemahaman akal dan hati atas teks Ilahi. Proses takhalli merupakan proses membebaskan diri, mengosongkan diri dan pikiran, dari penyakit hati yang tampak dari sifat dan akhlak tercela pada diri dan sesama. Ini adalah tahapan awal bagi seorang hamba yang ingin mendekat pada Tuhannya sebelum ia menapaki tahapan menghiasi dirinya dengan sifat-sifat terpuji (tahallii). Apabila seseorang telah mampu menapaki proses-proses ini, maka ia dapat melihat manifestasi Tuhan dalam bentuk nyata (tajalli). Ya, akhirnya kita semua akan menyadari, bahwa Tuhan sungguh dekat, dan kita akan asyik berinteraksi dengan baik terhadap sesama.(IL/AKR)

Nonton Juga

C

Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.

Komentar (0)
L
× Silakan LOGIN untuk berkomentar.