Apakah Pertikaian Antaragama adalah Takdir?
Audio
Refleksi Podcast Episode 76
Permusuhan Antar Umat Beragama: Bukan Karena Ajaran Kitab Sucinya, Namun Ulah Para Pemeluknya
Setiap umat beragama memiliki kitab suci yang digunakan sebagai pedoman hidup dan menjadi bagian dari keimanannya. Di dalam kitab-kitab suci tersebut juga melingkupi tentang panduan dalam menjalankan agama, berikut tata cara berinteraksi dengan kelompok agama berbeda; agar dapat bersama-sama menjalin interaksi kehidupan yang damai dan jauh dari pertikaian. Namun realitanya, sejarah mencatatkan, bahwa antar umat beragama masih sering sekali bersiteru dan melakukan peperangan yang mengerikan. Mengapa yang demikian harus terjadi? Mengingat semua umat beragama memiliki panduan kehidupan yang pasti? Apakah permusuhan antar umat beragama yang selalu menghadirkan penderitaan baru sepanjang zaman merupakan takdir yang tak terelakkan? Bagaimana kita harus menyikapi semua fenomena ini?
Alwi Shihab memahami dengan baik keputus-asaan yang tersirat dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ia dengan tegas mendudukkan cara berpikir kita agar tidak pasrah dan bingung atas fenomena-fenomena umat beragama yang masih terus terjadi dengan mengatakan, “Kita harus secara objektif mengatakan bahwa semua kitab-kitab suci yang turun dari Allah Swt., (baik itu Zabur, Taurat dan Injil), coba periksa, semuanya itu mengajarkan hal-hal yang baik, tidak ada yang mengajarkan membunuh.” Seperti contoh, ten commandment-nya umat Yahudi itu selain berisikan tentang keharusan percaya kepada Tuhan YME., di dalamnya juga berisikan larangan membunuh sesama manusia. Yang demikian ini ada di dalam Taurat dan dipercaya pula oleh orang-orang Nasrani.
Berdasarkan hal tersebut, Alwi Shihab kembali menjelaskan, bahwa apabila kita melihat banyak pertikaian yang terjadi di masa lampau, seperti Perang Salib, peristiwa ini diploklamirkan oleh tokoh agama Romawi, Paus Urbanus II; dan jika kita tanyakan pada pemuka agama yang ada sekarang, apakah mereka setuju dengan apa yang diproklamirkan Paus Urbanus II untuk memerangi umat Islam guna mengambil Jerrusalem sebagai bagian dari kekuasaan mereka, para pemuka agama ini justru banyak yang mengkritiknya. Sehingga dapat dipahami, bahwa tidak semua pemuka agama membenarkan apa yang dilakukan oleh para pendahulunya di masa lampau. Dari itu, melalui Konsili Vatikan 2 (1962-1965) dinyatakan bahwa tidak boleh mengingat sejarah yang lalu; dan hendaknya dilupakan. Hal ini menjadi sebuah hal yang diprioritaskan karena sejarah yang lalu menyebabkan pertumpahan darah, sehingga Konsili Vatikan 2 diadakan untuk menciptakan komunitas yang harmonis di antara semua komunitas agama. Apa yang tertulis dalam Konsili Vatikan 2 inilah inti sesungguhnya dari ajaran yang terdapat dalam Taurat, Injil dan juga Alquran.
Ajaran inti untuk menciptakan kehidupan yang harmonis di antara semua komunitas agama ternyata tidak selalu sesuai realita. Alwi Shihab mengajak kita melihat apa saja yang terjadi di Timur-Tengah, tentang bagaimana kelompok ISIS membunuh orang-orang yang tidak sejalan dengan mereka, bahkan orang Islam yang tidak sejalan pun tidak luput dari sasaran pembunuhan mereka. Tentu menjadi pertanyaan bersama, darimana mereka mendapat sumber ajaran yang beranggapan bahwa membunuh itu diperbolehkan, sedangkan semua kitab suci sangat melarang umatnya melakukan hal tersebut. Pendapat dan perilaku tersebut sudah menyimpang dari semangat yang begitu indah, baik dari Alquran maupun kitab suci lainnya.
Adapun kitab-kitab suci lainnya, ada yang telah mengalami perubahan-perubahan, tetapi inti dari ajaran semua kitab suci tersebut tidak banyak beda, yakni menganjurkan moralitas, menganjurkan kasih sayang, mengajurkan cinta sesama manusia. Seperti halnya dalam ajaran Alquran, Alquran mengajarkan kepada mereka yang mengimaninya untuk cinta kepada tetangga, cinta kepada orang tua, berbuat baik terhadap sesama manusia, menolong kaum fakir-miskin, dan lainnya. Ringkasnya, kitab suci tidak terlibat dalam pertikaian dan permusuhan antar sesama manusia. Permusuhan dapat tercipta bukan karena kitab sucinya, melainkan dari perilaku umat beragamanya. Ya, meskipun Tuhan YME melalui kitab suci memberikan tuntunan bagi hambanya, namun Tuhan juga memberi kesempatan kepada setan, iblis yang meminta pada-Nya supaya tetap dapat menggoda dan mengganggu manusia sebagai hamba Allah Swt. selama manusia hidup di dunia. Sebagaimana yang terdapat dalam QS. Al-Hijr, 39:
قَالَ رَبِّ بِمَآ اَغْوَيْتَنِيْ لَاُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِى الْاَرْضِ وَلَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ
”Ia (iblis) berkata, “Tuhanku, karena Engkau telah memperdayaku, sungguh aku akan menjadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi dan sungguh aku akan memperdaya mereka semua.”
Menjadi bagian dari perdaya iblis kepada manusia adalah bagaimana iblis membuat seorang Muslim yang hafal Alquran, yang sujudnya cukup banyak, tetapi radikal; yang menganggap dirinyalah yang paling benar, paling menang, dan dialah yang (boleh) membunuh. Inilah yang terjadi pada peristiwa meninggalnya Sayyidina Ali dan Sayyidina Usman, dua khalifah tersebut dibunuh oleh orang-orang Islam sendiri. Jadi, dalam melihat perilaku umat beragama yang menyimpang, Alwi Shihab mengajak agar masing-masing dari kita tidak perlu melihat pada kelompok agama lain, karena itu juga ada dalam agama kita. Alwi Shihab berpesan, “Kita hendaknya kembali kepada sumber. Itu perintah Nabi saw. Kembalilah kepada Alquran dan Sunnah. Sunnah ini keteladanan Nabi saw., karena sunnahnya juga banyak (hadis-hadis) yang dibuat sesuai kepentingan politik.” Oleh karena itu, kita perlu bijak dalam membaca, memahami, menafsirkan dan mempraktikkan teks sakral yang kita yakini.
Alwi Shihab kembali menegaskan, bahwa pertikaian dan permusuhan antar umat beragama bukanlah takdir, melainkan akibat dari ulah manusia itu sendiri. Kita dapat merubah takdir tersebut dengan berusaha dari kelompok paling kecil, yakni di rumah kita. Masing-masing dari kita secara bersama-sama harus berusaha untuk menjadi keluarga yang saling mencintai. Apabila ini sudah berhasil diterapkan dalam keluarga inti, maka dapat kita luaskan penerapannya dalam keluarga besar, kemudian kepada kampung kita, dan seterusnya. Konsistensi kita terhadap hal yang demikian, perlahan-lahan akan menjadi infiltrasi terhadap ajaran-ajaran radikal yang keras. Alwi Shihab optimis dan mengajak kita semua optimis karena pada dasarnya, Indonesia memiliki organisasi-organisasi Islam yang pada dasarnya tidak ada yang keras. Budaya Indonesia bukanlah budaya yang keras, berbeda dengan budaya seperti yang dilakukan di negeri Arab. Alwi Shihab membandingkan dengan terbunuhnya 3 pimpinan umat Islam hanya dalam kurun waktu 40 tahun, yakni Sayyidina Usman, Sayyidina Ali, Sayyidina Husain, dan seterusnya. Padahal, secara gamblang Alquran sudah melarang perilaku pembunuhan.
Budaya keras inilah yang kemudian masuk ke bumi Indonesia dengan beraneka ragam organisasi-organisasi yang keras, seperti Jamaah Islamiyah, kelompok Al-Qaeda, kelompok Takfir Wal Hijrah (yang bertanggung jawab atas terbunuhnya Anwar Sadat, Presiden Mesir ketiga, pada tahun 1981), kelompok Boko Haram dari Nigeria, kelompok ISIS, dan lainnya; pandangan dan budaya kelompok-kelompok ini sungguh jauh dari budaya Nusantara, khususnya Indonesia. Kehidupan beragama di Nusantara sebelum kelompok-kelompok tersebut mulai masuk ke Indonesia sangatlah damai, secara bertahun-tahun, umat Islam tidak pernah ada yang melakukan bom bunuh diri, bom masjid, atau juga bom gereja; tidak pernah ada. Infiltrasi dari kelompok-kelompok keras yang berasal dari luar Nusantara tadi itulah yang menjadikan orang-orang Indonesia menjadi ganas, karena mereka terpengaruh dan dipengaruhi oleh ulama yang dianggap sakral. Padahal, umat Islam sama sekali tidak boleh menyakralkan ulama tertentu, karena ulama itu bisa salah dan ulama itu mengeluarkan fatwanya sesuai dengan kondisi lingkungan dan konteks yang menyertainya. Tidak bisa suatu fatwa yang dibuat oleh ulama Irak di Irak dan kemudian diterapkan di Jawa, dimana orang Jawa khususnya itu sangat santun, sangat menghargai pendapat orang lain. Dengan kata lain, sebuah fatwa itu terikat tempat, pelaku dan juga budaya yang menyertainya; sehingga tidak bisa kita telan mentah-mentah isinya untuk dipraktikkan dalam kondisi kehidupan kita yang mungkin berbeda.
Alwi Shihab memberikan pungkasan penjelasan, “Jangan salahkan kitab suci, baik kitab suci Yahudi, Kristen, Islam, bahkan kitab suci Budha, Hindu dan lain-lain. Semua kitab suci itu mengajarkan hal-hal yang indah dan baik.” Menyimak paparan Alwi Shihab tentu memberi banyak insight baru kepada para pembaca. Apapun yang kita fahami dari penjelasannya, semuanya merujuk pada nilai agama yang universal, yakni motivasi untuk senantiasa memperbaiki diri, menebar kasih dan sayang, menghindari pertikaian dan permusuhan, memberikan pertolongan dengan penuh cinta, juga saling bekerja sama dalam kebaikan. Tidak ada yang mustahil saat setiap manusia mengusahakan untuk mewujudkan takdir indah yang diimpikan. Tidak ada yang sia-sia pula atas kebaikan-kebaikan kecil yang mulai kita lakukan di masa sekarang, tidak oleh kita, maka kehidupan penuh perdamaian itu akan dipanen oleh generasi-generasi setelah kita.(IL/AKR)
Nonton Juga
Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.