Toleransi yang Tidak Melemahkan Akidah
Audio
Refleksi Podcast Episode 75
Toleransi Beragama: Apakah Semua Agama Benar???
Toleransi beragama merupakan konsep yang sering digaungkan dalam tujuan menciptakan harmoni antar umat beragama. Dalam memaknai toleransi beragama, setiap kelompok memiliki penafsiran yang berbeda-beda, salah satunya dengan lahirnya konsep moderasi beragama. Konsep ini juga tak luput dari perbedaan pandangan dalam mendefinisikannya. Bahkan ada yang berpendapat, dalam isu moderasi beragama, ada yang disebut sebagai moderasi teologi dan moderasi sosial. Moderasi teologi adalah cara pandang yang menganggap bahwa selain agama diri sendiri yang benar, agama lain yang dipeluk oleh orang lain juga benar (semua agama benar); sehingga, menghargai keyakinan orang lain tidak masuk dalam kategori moderasi teologi. Sedangkan moderasi sosial adalah cara pandang untuk menghargai perbedaan, tanpa harus membenarkan apa yang diyakini liyan. Beragamnya definisi tersebut tentu membuat kita bingung, dan berdampak kepada pemahaman kita atas apa yang kita yakini. Namun Alwi Shihab membantu kita untuk keluar dari kebingungan berpikir ini dengan mengatakan, “Tidak benar kalau kita mengatakan bahwa agama kami benar dan agama anda benar. Harus ada kualifikasi. Jadi harus kita katakan begini: agama Islam bagi saya yang paling benar, dan saya juga bisa mengerti apabila anda mengatakan bahwa agama anda paling benar bagi anda.” Dengan mengatakan demikian, maka kita tidak mengatakan bahwa semua agama itu benar, melainkan agama anda benar bagi anda, agama mereka benar bagi mereka, tetapi agama kami benar bagi kami.
Alwi Shihab mengajak kita untuk membedakan antara toleransi di aspek teologis dan sosial. Karena dalam ruang teologis, ini sudah menyangkut tentang akidah, dan kita tidak bisa bertoleransi dengan mengatakan bahwa akidah kamu benar, akidah kami juga benar; namun harus kita katakan: “Kita berbeda; Kami meyakini bahwa apa yang kami yakini ini benar, sehingga apa yang kami yakini dari segi akidah ini membawa kami untuk mengikuti ritual sesuai dengan akidah yang kami yakini; dan adapun hubungan di antara kita sebagai pemeluk agama-agama, maka itu adalah hubungan sosial.” Ringkasnya, dalam hal toleransi, kita memiliki batas-batas yang sifatnya eksklusif dan inklusif. Batas eksklusif di sini berarti kita meyakini bahwa agama kita yang paling benar tanpa harus meyakini agama orang lain juga benar, dan ini adalah ranah teologi yang tidak dapat diganggu gugat karena dapat mengacaukan cara beragama seseorang. Kita tetap dapat saling menghargai tanpa harus memasakkan untuk mencampur-adukkan kebenaran masing-masing keyakinan yang diimani. Sedangkan batas inklusif tentu tidak melingkupi aspek teologi yang sifatnya individual, melainkan melingkupi hubungan sosial antar sesama manusia yang beragam, termasuk dalam hal keberagaman agama. Dengan demikian, masing-masing dari kita yang berbeda ini dapat tetap memiliki identitas iman yang teguh tanpa mengusik identitas dan kebebasan orang lain dalam beragama, namun kita semua tetap saling bekerja sama dalam identitas sosial lainnya.
Hal ini sudah disampaikan dalam QS. Al-Mumtahanah, 8:
لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ
“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”
Alwi Shihab menjelaskan, ayat ini secara gamblang menerangkan bahwa dalam berinteraksi dengan yang berbeda, kita tidak perlu menambahkan atribut/embel-embel teologis, atau dengan kata lain, kita tidak bicara teologi di sana. Namun yang kita diskusikan dalam berinteraksi tersebut adalah tentang hubungan kemanusiaan dan hubungan antar komunitas. Atas dasar ini, kembali ditegaskan oleh Alwi Shihab, dalam hal toleransi, tidak benar jika ada orang yang mengatakan bahwa “kami juga yakin bahwa agama anda benar,” melainkan harus ditambah menjadi: “Kami yakin bahwa agama anda benar bagi anda, tapi bagi kami tidak. Karena kami juga bisa menerima kalau anda mengatakan bahwa anda tidak yakin bahwa agama kami ini benar, tapi anda yakin agama anda yang paling benar.”
Dengan memiliki pandangan, keteguhan dan perkataan yang demikian, kita bisa menghindari suatu perseteruan. Atas dasar ini pula, ahli-ahli interreligious (dialog antar agama) menganjurkan agar hal-hal yang sifatnya teologis (akidah) untuk tidak dibahas; karena kalau hal teologis/akidah itu menyangkut iman yang sulit untuk diverifikasi. Adapun perihal iman, setiap individu merasa bahwa kalau dia mengimani sesuatu, itu akan sangat dalam bagi dirinya. Sehingga, jika apa yang diimani itu diutik, kondisi tersebut akan menjadi permulaan terjadinya konflik. Secara tegas Alwi Shihab mengingatkan, “Jangan berbicara tentang akidah, tentang teologi, kalau dengan pihak lain.” Hal ini sangat tidak dianjurkan karena akan menjadikan orang lain berkata, “Tidak! Agama kamu salah, agama kamu tidak benar!” Larangan ini dilandaskan pada QS. Al-An’am, 108:
وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَيَسُبُّوا اللّٰهَ عَدْوًا ۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْۖ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
“Dan janganlah kamu mencela sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan mencela Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat itu memandang baik pekerjaan mereka sendiri. Kemudian kepada Tuhanlah tempat mereka kembali, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.”
Mencela, menghakimi, melabeli kafir/sesat inilah yang dikecam oleh Alquran. Saat kita mengejek orang yang tidak percaya pada Tuhan yang kita sembah, nanti dia akan mengejek kembali pada kita; dan itu akan menjadikan hubungan yang tidak sehat antar sesama, demikian pungkas Alwi Shihab.
Penjelasan dari Alwi Shihab ini menuntun kita untuk tidak sibuk memikirkan dan mengurus apa yang menjadi pilihan orang lain yang tidak merugikan kita, dan juga agar kita disibukkan untuk menjalani apa yang telah menjadi keyakinan diri tanpa saling menghakimi. Demikianlah cara menciptakan kehidupan harmoni yang Qurani.(IL/AKR)
Nonton Juga
Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.