U

Tafsir Al-Baqarah 120 dan Al-Fatihah tentang Yahudi dan Nasrani

Refleksi Podcast Episode 88

Islam Datang Bukan Untuk Berperang: Memahami Konteks Perang dalam Sejarah Islam untuk Meminimalisir Kasus Intoleransi

Islam yang rahmatan (penuh kasih dan sayang) bukanlah jargon semata, melainkan visi yang harus senantiasa diusahakan oleh setiap diri umat Islam. Visi ini hanya dapat diwujudkan apabila dilakukan dengan misi yang utama, yakni kompetensi akhlak terpuji yang menjadi amalan setiap pemeluknya. Akhlak terpuji yang tidak saja dilakukan untuk diri sendiri dan kelompok sendiri, tetapi juga diberlakukan untuk semua makhluk Tuhan yang berada di bumi dengan segala macam identitas berbeda yang melekat pada setiap darinya. Kompetensi berupa akhlak terpuji tidak ujug-ujug dapat terealisasi, perlu latihan dalam memberi kesadaran pada diri, agar akhlak terpuji tidak menjadi niat dan gagasan semata, melainkan terealisasi dalam kehidupan nyata.

Visi dan misi Islam yang demikian mampu menjadi senjata untuk mengurangi kasus intoleransi di manapun manusia berada. Khususnya dalam konteks masyarakat Indonesia, Alwi Shihab mendorong agar kita semua berusaha sungguh-sungguh untuk menciptakan kerukunan di negara yang bhineka ini. Kita bisa menyaksikan dan merasakan bersama, bahwa dalam ruang lingkup bangsa Indonesia, yang sangat sensitif adalah hubungan antara komunitas Islam dan Kristen. Hal-hal kecil yang terjadi di antara dua komunitas tersebut, terkadang dapat menyulut pertikaian dan permusuhan. Yang demikian ini seyogyanya dapat kita hindari bersama.

Alwi Shihab mengajak kita untuk memahami sebuah kondisi realita yang terjadi. Seperti contoh, pada masa perang, ulama-ulama zaman dulu berpendapat dan menganggap bahwa: umat Islam tidak boleh masuk gereja; umat Islam tidak boleh ikut membangun gereja; kalau perlu, umat Islam meruntuhkan gereja. Namun ini terjadi hanya pada masa-masa perang dan tidak dapat kita tiru di era saat ini saat semua manusia menginginkan perdamaian. Adapun kondisi saat ini, kita bisa mengambil teladan kepada Nabi Muhammad saw. Dalam perjanjiannya dengan kelompok Kristen Najran, Nabi Muhammad saw. menyatakan bahwa komunitasnya akan berhubungan baik dengan kelompok Kristen Najran. Apabila kelompok Kristen Najran membutuhkan bantuan umat Islam untuk pembangunan gereja, maka umat Islam harus membantunya dan tidak menganggap bantuan yang diberikan tersebut sebagai hutang. Tidak hanya itu, di masa itu, umat Islam juga diperbolehkan untuk menikahi perempuan yang baik dari ahlul kitab. Semua realita di masa lampau ini menunjukkan betapa hubungan antar kelompok umat beragama itu seharusnya memanglah demikian.

Alwi Shihab juga menekankan agar kita tidak serta-merta mengikuti ulama-ulama yang mengeluarkan fatwa untuk tidak boleh mengucapkan “Selamat Natal” pada kelompok Kristen; tidak boleh menyapa kelompok lain yang sedang merayakan hari festival dan perayaan besar keagamaannya. Hal-hal yang demikian apabila dilakukan saat ini, maka akan melahirkan sikap-sikap intoleransi terhadap sesama. Yang harus digaris-bawahi tentang interaksi kepada kelompok yang berbeda sebagaimana yang diteladankan dan gariskan oleh Nabi Muhammad saw. adalah yang penting kita berhubungan baik, tidak saling menciderai, tidak saling memaki, apalagi berusaha untuk membinasakan pihak lain.

Kita semua harus memiliki kesadaran, pengetahuan, dan memahami konteks ajaran Islam berikut visi dan misi yang dibawa oleh Nabi saw secara komprehensif. Ya, Islam datang bukan untuk berperang. Peperangan-peperangan dalam tarikh Islam itu hampir semuanya adalah bersifat pertahanan diri (self defense). Seperti contoh perang Badar, pada saat itu, Nabi Muhammad saw. diserang di Madinah; perang Khandaq juga demikian. Alwi Shihab menjelaskan, bahwa kondisi perang pada masa itu disebabkan manusia-manusia saat itu (masa Nabi Muhammad saw, sebelum dan sesudahnya) menjadikan peperangan sebagai alat untuk menentukan siapa yang benar berdasarkan siapa yang dapat memenangkan peperangan. Diplomasi dalam berinteraksi dengan yang berbeda seperti yang kita lakukan sekarang belum lazim di masa itu, sehingga peperangan menjadi peristiwa yang tidak dapat dihindari. 

Adapaun saat itu, sebelum diserang, Nabi Muhammad saw. telah terlebih dahulu membentuk sebuah aliansi dari semua penduduk yang ada di Madinah, termasuk bersama kelompok Yahudi, kelompok non Muslim, juga kelompok Muslim untuk bersama-sama menjaga kedaulatan kota itu dari serangan. Nabi Muhammad saw. memiliki kemampuan untuk dapat mengantisipasi bahwasanya pasti akan datang serangan-serangan ke Madinah yang akan menimpa mereka semua yang tinggal di sana saat itu.

Paparan ini menuntun kita semua untuk mengambil Alquran sebagai patokan bahwasanya Allah Swt. menciptakan segala bentuk perbedaan (suku, bangsa, agama, bahasa, dan sebagainya) tidak lain adalah untuk menjalin hubungan ta’aruf. Ta’aruf itu adalah mengenal kelompok berbeda dengan cara yang positif lagi baik dan penuh kerukunan, bukan adawa (permusuhan). Jika kita semua memegang hal ini sebagai prinsip dalam hidup, in sya Allah kita bersama-sama akan berhasil menularkan pandangan positif ini kepada masyarakat luas. Alwi Shihab memberikan pungkasan, siapapun yang memiliki ilmu (khususnya yang berkaitan dengan isu ini), maka wajib hukumnya bagi mereka untuk menyampaikan kepada pihak yang lain.

Saat telah membaca paparan ini, masihkah kita menginginkan relasi bernuansa intoleransi yang menakutkan? Yuk bebarengan menjadi agen perdamaian yang bertugas secara wajib bagi masing-masing kita untuk menebarkan narasi agama yang rahmatan.(IL/AKR)

Nonton Juga

C
Bagaimanakah Konsep Dakwah dalam Agama Kristen?

Bagaimanakah Konsep Dakwah dalam Agama Kristen?

Durasi 2:39 - Bagaimanakah konsep ...
100 Tahun Pertama Perkembangan Islam

100 Tahun Pertama Perkembangan Islam

Durasi 13:11 Podcast Alwi Shihab ...

Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.

Komentar (0)
L
× Silakan LOGIN untuk berkomentar.