U

Fenomena Saling Menuding Sesat Antarumat Beragama

Refleksi Podcast Episode 79

Dua Mata Pisau Ber’Agama’: Sumber Perdamaian dan Sumber Permusuhan

Realita kehidupan dengan berbagai macam bentuk perbedaannya adalah hukum alam yang tidak mungkin dapat dihilangkan. Manusia akan senantiasa menemui, bersentuhan dan menyatu dengan perbedaan yang menjadi identitas bagi dirinya. Agama juga menjadi salah satu identitas yang membedakan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Perbedaan dalam hal agama dan keyakinan kerap memunculkan pandangan-pandangan fanatik yang mengklaim bahwa ‘agama/keyakinanku adalah agama yang paling benar, dan agama lainnya berikut para pengikutnya adalah salah dan sesat. Pandangan semacam ini masih sering kita semua jumpai dan rasakan, sehingga menimbulkan relasi antar umat beragama yang tidak harmonis, bahkan memicu pertikaian dan permusuhan. Pada akhirnya, tindakan umat beragama yang demikian membuat sesama manusia memiliki asumsi, bahwasanya beragama itu justru membuat kekisruhan dalam kehidupan alih-alih menciptakan perdamaian. Apakah sungguh demikian fungsi dari kehadiran agama? Dan bagaimana upaya agar asumsi tersebut tidak menjadi sebuah realita yang dianggap sebagai kebenaran bersama?

Merespon fenomena tersebut, Alwi Shihab mengatakan, untuk menghindari asumsi bahwa agama adalah sumber kekisruhan dan permusuhan, cara yang harus ditempuh masing-masing dari umat beragama adalah harus senantiasa membuka ruang untuk menerima perbedaan. Saat umat beragama membuka ruang tersebut, maka dengan sendirinya masing-masing umat beragama tidak mudah untuk mengatakan: Orang itu sesat!, Orang itu yang paling benar!, Saya yang paling benar!, dan sejenisnya. Bagi Alwi Shihab, ini adalah kunci utama dalam mewujudkan agama bukan sebagai sumber permusuhan; karena, saat seseorang sudah merasa bahwa dia yang paling benar, maka akan timbul arogansi seakan-akan yang lain itu keliru. Ini adalah penyakit orang-orang yang mempunyai sifat fanatisme di dalam pemikirannya dan juga sikapnya.

Membuka ruang untuk memahami perbedaan merupakan kunci untuk menghasilkan suatu hubungan yang harmonis dan penuh perdamaian. Kita harus senantiasa membuka ruang ini, karena Yang Maha Sempurna dan Yang Maha Mengetahui itu adalah Yang Maha Kuasa, bukan kita manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya; dan Yang Maha Kuasa telah mengatakan dalam QS. Al-Maidah, 48:

…اِلَى اللّٰهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَۙ

“…Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.”

Alwi Shihab menegaskan, pada ayat tersebut Yang Maha Kuasa sudah mengatakan, bahwa “kalian nanti akan kembali pada Saya.” Atas dasar ini, saat kita menganggap bahwa ada saudara kita yang sesat, maka kita jangan langsung mengatakan bahwa ia sesat, melainkan kita perlu bertanya apa argumentasi yang melandasi tindakan yang dipilihnya. Bagaimanapun juga, mungkin mereka memiliki argumentasi yang kita tidak ketahui, atau yang kita belum ketahui. Oleh karena itu ada ungkapan, “Orang yang mengetahui lebih banyak, maka lebih sedikit pengingkarannya terhadap orang lain.” Artinya, orang yang banyak membaca, tentu dia akan luas wawasannya; kalau seseorang luas wawasannya, maka ia bisa menerima perbedaan-perbedaan yang berbeda dengan pandangannya. 

Perihal kesesatan, Alwi Shihab mengajak kita agar menyerahkan kepada Tuhan, selama hal tersebut tidak mengganggu kita, mengganggu agama kita, dan mengganggu diri kita; dan juga, mari kita berusaha untuk menyampaikan dengan cara yang baik dan tidak perlu mengatakan ‘Kamu sesat!’, ‘Kamu masuk neraka!’, dan sebagainya. Untuk dapat melakukan ini, umat beragama perlu ‘man katsuro ‘ilmuhu qalla inkaruhu,’ orang yang ilmunya banyak, pengingkarannya terhadap orang lain akan berkurang. 

Alwi Shihab memberikan contoh, bahwa banyak sekali ulama-ulama setelah sekian tahun merubah pandangannya, seperti Imam Syafi’i. Dalam rentan waktu sekitar 30 tahun, Imam Syafi’i memiliki pandangan lama dan baru, atau dikenal dengan istilah qawl qadiim dan qawl jadiid. Sewaktu ia ke Mesir, ia melihat kehidupan masyarakat sosial yang berbeda dengan di Makkah dan di daerah Arabia lainnya, sehingga ia merubah pandangannya. Pilihan merubah pandangan ini disebabkan oleh wawasannya yang sudah lebih luas dibanding sebelumnya. Adanya pandangan barunya ini membuat Imam Syafi’i berikut metode ijtihadnya tidak terbelenggu oleh wawasan sewaktu beliau berada di Madinah atau tempat lainnya.

Tidak saja Imam Syafi’i sebagai tokoh klasik dalam peradaban Islam, dalam konteks ulama Indonesia ada pula nama tokoh yang merubah pandangannya, yakni Buya Hamka. Sebelumnya, Buya Hamka pada awalnya tidak setuju dengan Maulid (Peringatan kelahiran Nabi Muhammad saw.). Ia tidak setuju dan tidak  menganjurkan umat Islam melakukan Maulid. Namun pada akhir hayatnya, ia merubah pandangannya ini, sehingga ada yang bertanya, “Buya, dulu Buya ‘kan melarang orang Mauludan, tahlilan, kok sekarang sudah berubah Buya?” Dan dijawab oleh Buya Hamka, “Oh iya, dulu waktu saya larang itu, saya baru baca beberapa kitab. Setelah saya banyak baca kitab, saya berubah.” (Kisah ini Alwi Shihab dapatkan dari artikel yang pernah ia baca). Adapun maksud dari kisah ini secara tidak langsung mengatakan, bahwa saat Buya Hamka memberikan larangan pelaksanaan Maulud, wawasannya terbatas; tetapi begitu ia membaca banyak kitab, wawasannya menjadi luas. Atas dasar itu, Buya Hamka bisa menerima pandangan orang yang merayakan Maulud dan juga Tahlil. Bagi Buya Hamka, mereka juga memiliki dalil-dalil yang masuk akal, sehingga tidak boleh dilarang.

Paparan penjelasan dan kisah-kisah orang terdahulu yang disampaikan Alwi Shihab ini adalah sebuah dalil dan bukti yang perlu diikuti dalam memandang dan menerima perbedaan Ya, kita harus banyak belajar, banyak membaca, banyak mendengar, sehingga kita dapat menjadikan diri kita berwawasan luas dan siap untuk berbeda pandangan dengan orang lain tanpa kita bermusuhan dengan orang tersebut. Wawasan kita terhadap ajaran agama milik sendiri dan milik orang lain akan membawa kita pada sisi; sisi yang meneguhkan bahwa agama adalah sumber perdamaian, bukan sumber permusuhan bagi perbedaan yang sudah menjadi ketetapan..(IL/AKR)

Nonton Juga

C

Bagaimana pandangan Anda? Infokan juga apabila materi ini bermanfaat sebagai inspirasi tulisan/integrasi bahan dalam RPP/dsb.

Komentar (0)
L
× Silakan LOGIN untuk berkomentar.